Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sebagai langkah awal, tim seknas PEKKA menetapkan empat nagari sebagai basis dampingan yakni nagari Takung, Sungai Lasek, Kunangan Tari Trantang dan Maloro, dan terbentuk tujuh kelompok PEKKA, yaitu kelompok Maju Bersama, Mekar Bersama, Bonjong Aram Sepakat, Samurai Indah, Bundo, Dahlia, Sei Sariek Mandiri. Dengan kondisi medan yang sangat \u201cmenantang\u201d, jarak antar nagari yang begitu jauh dengan sarana transportasi yang amat terbatas, menyusuri medan jalan yang kecil dan berbahaya melewati wilayah perkebunan yang sepi. Untuk sampai ke tempat tujuan misalnya harus ditempuh selama dua jam perjalanan dengan motor. Sebagai perbandingan, luas satu desa di Sijunjung hampir sama dengan luas satu kecamatan di Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sedangkan kegiatan nonformal dimulai membangun interaksi dengan para tuan adat setempat, membina komunikasi, diskusi informal, sambil menyelami dan memahami budaya dan kondisi psikologis warga masyarakat setempat. Tim Seknaspun larut dalam laku keseharian masyarakat. Tak jarang, tim terlibat dalam serangkaian kegiatan budaya yang berkembang di masyarakat. \u201cUntuk mengenali wilayah dengan baik, kami ikut upacara adat mereka atau ikut acara pengajian, bahkan di acara perkawinan sekalipun saya menyempatkan untuk bisa kenal dengan ibu-ibu. Sampai-sampai kami juga bergerilya ke sawah menemui mereka, ikut batobo<\/em>\u201d, tutur Oemi, begitu ia biasa disapa. Dari pendekatan inilah, sosialisasi PEKKA mulai dirasakan hasilnya.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai langkah awal, tim seknas PEKKA menetapkan empat nagari sebagai basis dampingan yakni nagari Takung, Sungai Lasek, Kunangan Tari Trantang dan Maloro, dan terbentuk tujuh kelompok PEKKA, yaitu kelompok Maju Bersama, Mekar Bersama, Bonjong Aram Sepakat, Samurai Indah, Bundo, Dahlia, Sei Sariek Mandiri. Dengan kondisi medan yang sangat \u201cmenantang\u201d, jarak antar nagari yang begitu jauh dengan sarana transportasi yang amat terbatas, menyusuri medan jalan yang kecil dan berbahaya melewati wilayah perkebunan yang sepi. Untuk sampai ke tempat tujuan misalnya harus ditempuh selama dua jam perjalanan dengan motor. Sebagai perbandingan, luas satu desa di Sijunjung hampir sama dengan luas satu kecamatan di Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Saat pertama kali memulai kegiatan, tiga orang tim Seknas PEKKA mengemban tugas pendampingan di Kabupaten Sijunjung. Mereka adalah Oemi Faezathi, Mardiyah dan Kodar. Menurut Oemi, selama menjalankan tugas dampingan, tim seknas PEKKA melakukan dua pendekatan sekaligus yaitu pendekatan formal dan nonformal. Pendekatan formal dilakukan melalui jalur birokrasi pemerintahan terkait dengan proses perizinan dari tingkat propinsi sampai pada level jorong (atau dusun). Pada umumnya kalangan birokrasi menyambut baik agenda pendampingan PEKKA ini. Bahkan, dalam rangka sosialisasi program PEKKA, tim Seknas PEKKA kerap terlibat dalam seminar yang diselenggarakan pemerintah daerah setempat.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan kegiatan nonformal dimulai membangun interaksi dengan para tuan adat setempat, membina komunikasi, diskusi informal, sambil menyelami dan memahami budaya dan kondisi psikologis warga masyarakat setempat. Tim Seknaspun larut dalam laku keseharian masyarakat. Tak jarang, tim terlibat dalam serangkaian kegiatan budaya yang berkembang di masyarakat. \u201cUntuk mengenali wilayah dengan baik, kami ikut upacara adat mereka atau ikut acara pengajian, bahkan di acara perkawinan sekalipun saya menyempatkan untuk bisa kenal dengan ibu-ibu. Sampai-sampai kami juga bergerilya ke sawah menemui mereka, ikut batobo<\/em>\u201d, tutur Oemi, begitu ia biasa disapa. Dari pendekatan inilah, sosialisasi PEKKA mulai dirasakan hasilnya.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai langkah awal, tim seknas PEKKA menetapkan empat nagari sebagai basis dampingan yakni nagari Takung, Sungai Lasek, Kunangan Tari Trantang dan Maloro, dan terbentuk tujuh kelompok PEKKA, yaitu kelompok Maju Bersama, Mekar Bersama, Bonjong Aram Sepakat, Samurai Indah, Bundo, Dahlia, Sei Sariek Mandiri. Dengan kondisi medan yang sangat \u201cmenantang\u201d, jarak antar nagari yang begitu jauh dengan sarana transportasi yang amat terbatas, menyusuri medan jalan yang kecil dan berbahaya melewati wilayah perkebunan yang sepi. Untuk sampai ke tempat tujuan misalnya harus ditempuh selama dua jam perjalanan dengan motor. Sebagai perbandingan, luas satu desa di Sijunjung hampir sama dengan luas satu kecamatan di Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sedangkan, upaya pemberdayaan dan pendampingan bagi kelompok perempuan ini masih sangat minim. Berbagai lembaga swadaya masyarakat sepertinya tak banyak melakukan intervensi atas kondisi ini. Sejauh pantauan tim seknas PEKKA, lembaga penggerak sosial hampir tidak ada yang mengorganisir perempuan kepala keluarga, memberikan dampingan maupun memajukan kelompok yang dianggap kelas dua. Berangkat dari alasan ini, PEKKA pun terpanggil untuk melakukan apa yang belum mereka lakukan di daerah ini. \u201cAkses terhadap sumber daya dan akses program masih sangat rendah untuk dimanfaatkan secara utuh oleh masyarakat. Bahkan juga tidak banyak perempuan pada umumnya tahu bagaimana sih mengurus identitas formal mereka. Nah diantara banyak persoalan-persoalan itulah akhirnya kita memutuskan untuk mengorganisir di wilayah tersebut\u201d, ungkap Oemi saat ditemui di ruang kerjanya.<\/p>\n\n\n\n
Saat pertama kali memulai kegiatan, tiga orang tim Seknas PEKKA mengemban tugas pendampingan di Kabupaten Sijunjung. Mereka adalah Oemi Faezathi, Mardiyah dan Kodar. Menurut Oemi, selama menjalankan tugas dampingan, tim seknas PEKKA melakukan dua pendekatan sekaligus yaitu pendekatan formal dan nonformal. Pendekatan formal dilakukan melalui jalur birokrasi pemerintahan terkait dengan proses perizinan dari tingkat propinsi sampai pada level jorong (atau dusun). Pada umumnya kalangan birokrasi menyambut baik agenda pendampingan PEKKA ini. Bahkan, dalam rangka sosialisasi program PEKKA, tim Seknas PEKKA kerap terlibat dalam seminar yang diselenggarakan pemerintah daerah setempat.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan kegiatan nonformal dimulai membangun interaksi dengan para tuan adat setempat, membina komunikasi, diskusi informal, sambil menyelami dan memahami budaya dan kondisi psikologis warga masyarakat setempat. Tim Seknaspun larut dalam laku keseharian masyarakat. Tak jarang, tim terlibat dalam serangkaian kegiatan budaya yang berkembang di masyarakat. \u201cUntuk mengenali wilayah dengan baik, kami ikut upacara adat mereka atau ikut acara pengajian, bahkan di acara perkawinan sekalipun saya menyempatkan untuk bisa kenal dengan ibu-ibu. Sampai-sampai kami juga bergerilya ke sawah menemui mereka, ikut batobo<\/em>\u201d, tutur Oemi, begitu ia biasa disapa. Dari pendekatan inilah, sosialisasi PEKKA mulai dirasakan hasilnya.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai langkah awal, tim seknas PEKKA menetapkan empat nagari sebagai basis dampingan yakni nagari Takung, Sungai Lasek, Kunangan Tari Trantang dan Maloro, dan terbentuk tujuh kelompok PEKKA, yaitu kelompok Maju Bersama, Mekar Bersama, Bonjong Aram Sepakat, Samurai Indah, Bundo, Dahlia, Sei Sariek Mandiri. Dengan kondisi medan yang sangat \u201cmenantang\u201d, jarak antar nagari yang begitu jauh dengan sarana transportasi yang amat terbatas, menyusuri medan jalan yang kecil dan berbahaya melewati wilayah perkebunan yang sepi. Untuk sampai ke tempat tujuan misalnya harus ditempuh selama dua jam perjalanan dengan motor. Sebagai perbandingan, luas satu desa di Sijunjung hampir sama dengan luas satu kecamatan di Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sebagai kabupaten baru, Sijunjung dihadapkan pada sejumlah problem sosial khususnya bagi kaum perempuan. Mereka umumnya buta hukum, kebanyakan diantara mereka berprofesi sebagai buruh. Sarana transportasi juga masih sangat terbatas. Selain itu, praktik kekerasan, perkosaan masih menjadi halaman depan wajah masalah Sijunjung. Aborsi baik akibat kehamilan tidak diinginkan masih tergolong tinggi, termasuk pelecehan seksual terhadap perempuan. Tingginya perkawinan di bawah umur juga terjadi di wilayah ini. Sekitar 600 perempuan kepala keluarga tidak mengantongi surat nikah adalah sisi lain yang kurang mendapat perhatian serius. Selain itu, angka buta huruf juga tergolong tinggi terutama di nagari Muaro Takung dan Maloro. Di Dua nagari ini tim menemukan banyak hal misalnya kekerasan terhadap perempuan, penipuan yang dilakukan suami terhadap istri untuk poligami. Nagari adalah nama lain dari desa dalam bahasa Minang.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan, upaya pemberdayaan dan pendampingan bagi kelompok perempuan ini masih sangat minim. Berbagai lembaga swadaya masyarakat sepertinya tak banyak melakukan intervensi atas kondisi ini. Sejauh pantauan tim seknas PEKKA, lembaga penggerak sosial hampir tidak ada yang mengorganisir perempuan kepala keluarga, memberikan dampingan maupun memajukan kelompok yang dianggap kelas dua. Berangkat dari alasan ini, PEKKA pun terpanggil untuk melakukan apa yang belum mereka lakukan di daerah ini. \u201cAkses terhadap sumber daya dan akses program masih sangat rendah untuk dimanfaatkan secara utuh oleh masyarakat. Bahkan juga tidak banyak perempuan pada umumnya tahu bagaimana sih mengurus identitas formal mereka. Nah diantara banyak persoalan-persoalan itulah akhirnya kita memutuskan untuk mengorganisir di wilayah tersebut\u201d, ungkap Oemi saat ditemui di ruang kerjanya.<\/p>\n\n\n\n
Saat pertama kali memulai kegiatan, tiga orang tim Seknas PEKKA mengemban tugas pendampingan di Kabupaten Sijunjung. Mereka adalah Oemi Faezathi, Mardiyah dan Kodar. Menurut Oemi, selama menjalankan tugas dampingan, tim seknas PEKKA melakukan dua pendekatan sekaligus yaitu pendekatan formal dan nonformal. Pendekatan formal dilakukan melalui jalur birokrasi pemerintahan terkait dengan proses perizinan dari tingkat propinsi sampai pada level jorong (atau dusun). Pada umumnya kalangan birokrasi menyambut baik agenda pendampingan PEKKA ini. Bahkan, dalam rangka sosialisasi program PEKKA, tim Seknas PEKKA kerap terlibat dalam seminar yang diselenggarakan pemerintah daerah setempat.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan kegiatan nonformal dimulai membangun interaksi dengan para tuan adat setempat, membina komunikasi, diskusi informal, sambil menyelami dan memahami budaya dan kondisi psikologis warga masyarakat setempat. Tim Seknaspun larut dalam laku keseharian masyarakat. Tak jarang, tim terlibat dalam serangkaian kegiatan budaya yang berkembang di masyarakat. \u201cUntuk mengenali wilayah dengan baik, kami ikut upacara adat mereka atau ikut acara pengajian, bahkan di acara perkawinan sekalipun saya menyempatkan untuk bisa kenal dengan ibu-ibu. Sampai-sampai kami juga bergerilya ke sawah menemui mereka, ikut batobo<\/em>\u201d, tutur Oemi, begitu ia biasa disapa. Dari pendekatan inilah, sosialisasi PEKKA mulai dirasakan hasilnya.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai langkah awal, tim seknas PEKKA menetapkan empat nagari sebagai basis dampingan yakni nagari Takung, Sungai Lasek, Kunangan Tari Trantang dan Maloro, dan terbentuk tujuh kelompok PEKKA, yaitu kelompok Maju Bersama, Mekar Bersama, Bonjong Aram Sepakat, Samurai Indah, Bundo, Dahlia, Sei Sariek Mandiri. Dengan kondisi medan yang sangat \u201cmenantang\u201d, jarak antar nagari yang begitu jauh dengan sarana transportasi yang amat terbatas, menyusuri medan jalan yang kecil dan berbahaya melewati wilayah perkebunan yang sepi. Untuk sampai ke tempat tujuan misalnya harus ditempuh selama dua jam perjalanan dengan motor. Sebagai perbandingan, luas satu desa di Sijunjung hampir sama dengan luas satu kecamatan di Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Kabupaten Sijunjung menjadi target utama pendampingan. Berdasarkan data Bank Dunia, Kabupaten Sijunjung selain merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi konflik cukup tajam, terutama konflik sumber daya alam, daerah ini juga dikenal memiliki komposisi perempuan kepala keluarga yang cukup tinggi. Mereka rata-rata kurang terberdayakan. Memang, Sumatera Barat sangat kaya dengan kekayaan alamnya. Namun, umumnya masyakarat masih hidup dalam kemiskinan. Konflik sumber daya alam menjadi salah satu faktornya dan pertama yang terkena dampak konflik sumber daya alam ini adalah perempuan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai kabupaten baru, Sijunjung dihadapkan pada sejumlah problem sosial khususnya bagi kaum perempuan. Mereka umumnya buta hukum, kebanyakan diantara mereka berprofesi sebagai buruh. Sarana transportasi juga masih sangat terbatas. Selain itu, praktik kekerasan, perkosaan masih menjadi halaman depan wajah masalah Sijunjung. Aborsi baik akibat kehamilan tidak diinginkan masih tergolong tinggi, termasuk pelecehan seksual terhadap perempuan. Tingginya perkawinan di bawah umur juga terjadi di wilayah ini. Sekitar 600 perempuan kepala keluarga tidak mengantongi surat nikah adalah sisi lain yang kurang mendapat perhatian serius. Selain itu, angka buta huruf juga tergolong tinggi terutama di nagari Muaro Takung dan Maloro. Di Dua nagari ini tim menemukan banyak hal misalnya kekerasan terhadap perempuan, penipuan yang dilakukan suami terhadap istri untuk poligami. Nagari adalah nama lain dari desa dalam bahasa Minang.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan, upaya pemberdayaan dan pendampingan bagi kelompok perempuan ini masih sangat minim. Berbagai lembaga swadaya masyarakat sepertinya tak banyak melakukan intervensi atas kondisi ini. Sejauh pantauan tim seknas PEKKA, lembaga penggerak sosial hampir tidak ada yang mengorganisir perempuan kepala keluarga, memberikan dampingan maupun memajukan kelompok yang dianggap kelas dua. Berangkat dari alasan ini, PEKKA pun terpanggil untuk melakukan apa yang belum mereka lakukan di daerah ini. \u201cAkses terhadap sumber daya dan akses program masih sangat rendah untuk dimanfaatkan secara utuh oleh masyarakat. Bahkan juga tidak banyak perempuan pada umumnya tahu bagaimana sih mengurus identitas formal mereka. Nah diantara banyak persoalan-persoalan itulah akhirnya kita memutuskan untuk mengorganisir di wilayah tersebut\u201d, ungkap Oemi saat ditemui di ruang kerjanya.<\/p>\n\n\n\n
Saat pertama kali memulai kegiatan, tiga orang tim Seknas PEKKA mengemban tugas pendampingan di Kabupaten Sijunjung. Mereka adalah Oemi Faezathi, Mardiyah dan Kodar. Menurut Oemi, selama menjalankan tugas dampingan, tim seknas PEKKA melakukan dua pendekatan sekaligus yaitu pendekatan formal dan nonformal. Pendekatan formal dilakukan melalui jalur birokrasi pemerintahan terkait dengan proses perizinan dari tingkat propinsi sampai pada level jorong (atau dusun). Pada umumnya kalangan birokrasi menyambut baik agenda pendampingan PEKKA ini. Bahkan, dalam rangka sosialisasi program PEKKA, tim Seknas PEKKA kerap terlibat dalam seminar yang diselenggarakan pemerintah daerah setempat.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan kegiatan nonformal dimulai membangun interaksi dengan para tuan adat setempat, membina komunikasi, diskusi informal, sambil menyelami dan memahami budaya dan kondisi psikologis warga masyarakat setempat. Tim Seknaspun larut dalam laku keseharian masyarakat. Tak jarang, tim terlibat dalam serangkaian kegiatan budaya yang berkembang di masyarakat. \u201cUntuk mengenali wilayah dengan baik, kami ikut upacara adat mereka atau ikut acara pengajian, bahkan di acara perkawinan sekalipun saya menyempatkan untuk bisa kenal dengan ibu-ibu. Sampai-sampai kami juga bergerilya ke sawah menemui mereka, ikut batobo<\/em>\u201d, tutur Oemi, begitu ia biasa disapa. Dari pendekatan inilah, sosialisasi PEKKA mulai dirasakan hasilnya.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai langkah awal, tim seknas PEKKA menetapkan empat nagari sebagai basis dampingan yakni nagari Takung, Sungai Lasek, Kunangan Tari Trantang dan Maloro, dan terbentuk tujuh kelompok PEKKA, yaitu kelompok Maju Bersama, Mekar Bersama, Bonjong Aram Sepakat, Samurai Indah, Bundo, Dahlia, Sei Sariek Mandiri. Dengan kondisi medan yang sangat \u201cmenantang\u201d, jarak antar nagari yang begitu jauh dengan sarana transportasi yang amat terbatas, menyusuri medan jalan yang kecil dan berbahaya melewati wilayah perkebunan yang sepi. Untuk sampai ke tempat tujuan misalnya harus ditempuh selama dua jam perjalanan dengan motor. Sebagai perbandingan, luas satu desa di Sijunjung hampir sama dengan luas satu kecamatan di Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sumatera Barat merupakan salah satu daerah perluasan kerja PEKKA. Selama kurun waktu tiga tahun melakukan pemberdayaan dan pendampingan terhadap perempuan kepala keluarga (Pekka), jumlah anggota PEKKA semakin meningkat. Hingga kini telah terbentuk lebih dari 30 kelompok Pekka sejak pertama kali digagas pada tahun 2011. Pada pelaksanaan Forum Wilayah PEKKA Sumatera Barat baru-baru ini tercatat anggota PEKKA Sumatera Barat mencapai lebih 1000 anggota.<\/p>\n\n\n\n
Kabupaten Sijunjung menjadi target utama pendampingan. Berdasarkan data Bank Dunia, Kabupaten Sijunjung selain merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi konflik cukup tajam, terutama konflik sumber daya alam, daerah ini juga dikenal memiliki komposisi perempuan kepala keluarga yang cukup tinggi. Mereka rata-rata kurang terberdayakan. Memang, Sumatera Barat sangat kaya dengan kekayaan alamnya. Namun, umumnya masyakarat masih hidup dalam kemiskinan. Konflik sumber daya alam menjadi salah satu faktornya dan pertama yang terkena dampak konflik sumber daya alam ini adalah perempuan.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai kabupaten baru, Sijunjung dihadapkan pada sejumlah problem sosial khususnya bagi kaum perempuan. Mereka umumnya buta hukum, kebanyakan diantara mereka berprofesi sebagai buruh. Sarana transportasi juga masih sangat terbatas. Selain itu, praktik kekerasan, perkosaan masih menjadi halaman depan wajah masalah Sijunjung. Aborsi baik akibat kehamilan tidak diinginkan masih tergolong tinggi, termasuk pelecehan seksual terhadap perempuan. Tingginya perkawinan di bawah umur juga terjadi di wilayah ini. Sekitar 600 perempuan kepala keluarga tidak mengantongi surat nikah adalah sisi lain yang kurang mendapat perhatian serius. Selain itu, angka buta huruf juga tergolong tinggi terutama di nagari Muaro Takung dan Maloro. Di Dua nagari ini tim menemukan banyak hal misalnya kekerasan terhadap perempuan, penipuan yang dilakukan suami terhadap istri untuk poligami. Nagari adalah nama lain dari desa dalam bahasa Minang.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan, upaya pemberdayaan dan pendampingan bagi kelompok perempuan ini masih sangat minim. Berbagai lembaga swadaya masyarakat sepertinya tak banyak melakukan intervensi atas kondisi ini. Sejauh pantauan tim seknas PEKKA, lembaga penggerak sosial hampir tidak ada yang mengorganisir perempuan kepala keluarga, memberikan dampingan maupun memajukan kelompok yang dianggap kelas dua. Berangkat dari alasan ini, PEKKA pun terpanggil untuk melakukan apa yang belum mereka lakukan di daerah ini. \u201cAkses terhadap sumber daya dan akses program masih sangat rendah untuk dimanfaatkan secara utuh oleh masyarakat. Bahkan juga tidak banyak perempuan pada umumnya tahu bagaimana sih mengurus identitas formal mereka. Nah diantara banyak persoalan-persoalan itulah akhirnya kita memutuskan untuk mengorganisir di wilayah tersebut\u201d, ungkap Oemi saat ditemui di ruang kerjanya.<\/p>\n\n\n\n
Saat pertama kali memulai kegiatan, tiga orang tim Seknas PEKKA mengemban tugas pendampingan di Kabupaten Sijunjung. Mereka adalah Oemi Faezathi, Mardiyah dan Kodar. Menurut Oemi, selama menjalankan tugas dampingan, tim seknas PEKKA melakukan dua pendekatan sekaligus yaitu pendekatan formal dan nonformal. Pendekatan formal dilakukan melalui jalur birokrasi pemerintahan terkait dengan proses perizinan dari tingkat propinsi sampai pada level jorong (atau dusun). Pada umumnya kalangan birokrasi menyambut baik agenda pendampingan PEKKA ini. Bahkan, dalam rangka sosialisasi program PEKKA, tim Seknas PEKKA kerap terlibat dalam seminar yang diselenggarakan pemerintah daerah setempat.<\/p>\n\n\n\n
Sedangkan kegiatan nonformal dimulai membangun interaksi dengan para tuan adat setempat, membina komunikasi, diskusi informal, sambil menyelami dan memahami budaya dan kondisi psikologis warga masyarakat setempat. Tim Seknaspun larut dalam laku keseharian masyarakat. Tak jarang, tim terlibat dalam serangkaian kegiatan budaya yang berkembang di masyarakat. \u201cUntuk mengenali wilayah dengan baik, kami ikut upacara adat mereka atau ikut acara pengajian, bahkan di acara perkawinan sekalipun saya menyempatkan untuk bisa kenal dengan ibu-ibu. Sampai-sampai kami juga bergerilya ke sawah menemui mereka, ikut batobo<\/em>\u201d, tutur Oemi, begitu ia biasa disapa. Dari pendekatan inilah, sosialisasi PEKKA mulai dirasakan hasilnya.<\/p>\n\n\n\n
Sebagai langkah awal, tim seknas PEKKA menetapkan empat nagari sebagai basis dampingan yakni nagari Takung, Sungai Lasek, Kunangan Tari Trantang dan Maloro, dan terbentuk tujuh kelompok PEKKA, yaitu kelompok Maju Bersama, Mekar Bersama, Bonjong Aram Sepakat, Samurai Indah, Bundo, Dahlia, Sei Sariek Mandiri. Dengan kondisi medan yang sangat \u201cmenantang\u201d, jarak antar nagari yang begitu jauh dengan sarana transportasi yang amat terbatas, menyusuri medan jalan yang kecil dan berbahaya melewati wilayah perkebunan yang sepi. Untuk sampai ke tempat tujuan misalnya harus ditempuh selama dua jam perjalanan dengan motor. Sebagai perbandingan, luas satu desa di Sijunjung hampir sama dengan luas satu kecamatan di Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n
Selain faktor geografis, hambatan budaya adalah tantangan lain yang tak kalah beratnya. Bertemu warga untuk acara kumpul selain acara adat tak mudah dilakukan, terutama jika diadakan siang hari. Karena kesibukan masyarakat di kebun pada siang hari, mengharuskan pendekatan dilakukan hanya pada malam hari. Selain, itu tidaklah mudah membangun kepercayaan terutama dengan para tokoh adat setempat. Sebab mereka ini menjadi pusat legitimasi di masyarakat. Karena itu, tim terus membina dan memperkuat hubungan komunikasi. Kegiatan tim seknas PEKKA di tengah masyarakat pun tak luput dari berbagai tuduhan khususnya dari kaum laki-laki yang merasa \u201ctak nyaman\u2019 dengan keberpihakan PEKKA terhadap perempuan. Misalnya tuduhan kepada tim Seknas Pekka sebagai missionaris dan programnya didanai oleh golongan kafir. Namun, semua itu menjadi motivasi bagi tim untuk terus berkarya dan berjuang meyakinkan masyarakat. \u201cJadi membangun kepercayaan tidak hanya di awal saja, tetapi harus masuk dalam agenda yang terus berlanjut, sehingga dapat terbangun kepercayaan masyarakat kepada PEKKA\u201d, lebih lanjut Oemi menandaskan.<\/p>\n\n\n\n
Kegiatan simpan pinjam menjadi pilihan awal pendampingan. Melalui rancang bangun kegiatan yang dikembangkan tim, mereka mulai merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga dilatih visi misi, dan membangun motivasi berkelompok. Selang beberapa waktu berselang, mereka sendiri mengajukan untuk didampingi terkait pengurusan surat legal formal seperti pembuatan Kartu Keluarga, KTP, termasuk juga dokumen yang berhubungan dengan perkawinan, seperti akta nikah, akta cerai ataupun akta kelahiran bagi anak-anaknya. <\/p>\n\n\n\n
Hingga kini, perjuangan PEKKA di wilayah tersebut semakin solid dengan terus memelihara komitmen bersama, serta terus membangun kepercayaan antara kelompok dan kader melalui pertemuan-pertemuan rutin, menghidupkan komunikasi antar sesama anggota, juga melalui kegiatan Forwil maupun Fornas PEKKA.<\/p>\n","post_title":"Merawat Kepercayaan, Kelompok Pekka Sumatera Barat Meningkat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"merawat-kepercayaan-kelompok-pekka-sumatera-barat-meningkat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-02-25 03:40:27","post_modified_gmt":"2021-02-25 03:40:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1653","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1568,"post_author":"4","post_date":"2021-01-14 10:04:21","post_date_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content":"\n
Saya sebelumnya tidak tahu apa itu PEKKA, sebelumnya mau bergabung saja sudah ragu. Setelah mengikuti pelatihan visi misi dan motivasi, saya merasakan perubahan yang bermakna, saya jadi tahu dan merasa penting punya cita-cita dan harapan bagi masa depan. Sebelumnya saya juga tidak tahu perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki. Awalnya saya hanya tahu jika perempuan harus patuh pada laki-laki \/ suami. <\/p>\n\n\n\n
Setelah mendapat pelatihan dan bergabung bersama PEKKA, saya jadi tahu jika laki-laki dan perempuan itu seimbang, perempuan dan laki-laki punya pola pikir yang sama, laki-laki punya kewajiban mengayomi dan melindungi kaum perempuan. Pemimpin bukan karena dia laki-laki, perempuan pun bisa memimpin. Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga, kerjaannya hanya di rumah, bosan dan jenuh.<\/p>\n\n\n\n
Setelah ikut PEKKA saya jadi punya perasaan yang berbeda, karena banyak kesempatan untuk belajar dan belajar terus meski terkadang sedikit tidak mudeng, serta mendapat pengalaman baru dan teman baru. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang bisa bergabung seperti sekarang, semoga ke depannya harapan saya bisa lebih maju, supaya sebagai perempuan saya bisa hidup mandiri dan membantu suami, serta semakin memperluas pengalaman saya<\/p>\n\n\n\n
Perubahan yang terjadi mulai saya rasakan sedikit demi sedikit, seperti dahulu saya takut, grogi, tapi yang saya rasakan sekarang saya sudah bisa belajar cara menyampaikan sesuatu, terutama cara bicara di depan banyak orang. Saya berlatih mulai dari kelompok saya sendiri, sekarang rasa grogi yang saya rasakan sudah mulai hilang.<\/p>\n\n\n\n
Karena sering bertemu dengan orang banyak, saya jadi mulai berubah, saya bisa mulai berbagi cerita suka maupun duka, segala uneg-uneg yang saya pendam bisa saya ungkapkan. Pikiran menjadi segar, hati terasa tenang. Yang berperan membantu perubahan pada diri saya adalah, peran teman-teman anggota kelompok, sekwil dan serikat Pekka serta masyarakat setempat. Saya sangat berterimakasih bisa mengikuti pelatihan dan mendapat banyak pelajaran berharga bagi hidup saya. Meski terkadang masih ada rasa ragu, namun saya akan berusaha untuk mengamalkan ilmu saya dengan menjadi kader Pekka. (Sri Kuniati)<\/p>\n","post_title":"Lebih Sadar dan Mengerti Hakekat Perbedaan Laki-laki dan Perempuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"lebih-sadar-dan-mengerti-hakekat-perbedaan-laki-laki-dan-perempuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-14 10:04:21","post_modified_gmt":"2021-01-14 10:04:21","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1568","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1561,"post_author":"4","post_date":"2021-01-13 07:08:27","post_date_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content":"\n
Sebelum bergabung dengan Pekka, saya sangat merasa rendah diri dengan status saya sebagai janda beranak yang ditinggal kawin lagi oleh mantan suami. Setiap keluar rumah, masyarakat memandang seolah saya ini perempuan yang meninggalkan aib, karena ketika perempuan meninggalkan suami, pastilah karena perempuan itu sendiri yang salah. Apalagi saya meninggalkan mantan suami di Medan, yang bagi masyarakat di kampong saya apapn sebab yang saya katakana seolah mereka tak percaya.<\/p>\n\n\n\n
Semenjak bergabung dengan Program PEKKA, banyak sekali perubahan yang saya rasakan dari grogi menjadi percaya diri dan bisa berbicara dengan pejabat, dengan pinjam di LKM bisa membantu ekonomi keluarga dan biaya anak sekolah saya, namun perubahan yang paling bermakna adalah kemerdekaan untuk bisa menulis dan dimuat di bulletin buatan kami, Serikat Pekka sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Perubahan itu terjadi karena proses, awalnya saya mendapat semangat dan bimbingan dari pendamping lapang. Selain itu, saya mendapatkan banyak pelatihan baik pelatihan tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Kemampuan menulisawalnya kami belajar dan mendapat pelatihan dari lembaga Insist Yogyakarta untuk mengelola kegiatan bernama SMS Monitoring. Dimana kami dilatih untuk mengelola SMS baik terkait masalah maupun perkembangan di wilayah desa maupun Kecamatan, dari jurnalis warga yang sebagian besar adalah anggota Pekka dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada Pekka. SMS yang dikirimkan bisa meliputi bidang Ekosoc (Ekonomi, social dan budaya).<\/p>\n\n\n\n
Dari bahan SMS tersebut kami memilah mana yang akan kami jadikan bahan untuk advokasi dan sebagian kami kembangkan dengan menulis menjadi sebuah artikel. Pelatihan berikutnya di tingkat Nasional sangat berkesan sekali karena dilatih secara langsung oleh jurnalis senior dari Malaysia Bapak Jo Han Tan. Ilmu yang didapatkan dari pelatihan jika tidak diterapkan akan musnah dari otak saya. Oleh karena itu, selain mengamalkannya dengan menyampaikan ke orang lain, saya memberanikan diri untuk mulai menulis artikel.<\/p>\n\n\n\n
Artikel itu dimuat dalam bulletin yang kami sepakati bernama \u201c Lantang \u201c (Lantunan Suara Batang). Buletin itu hingga kini sudah terbit empat kali dan tulisan karya saya sudah dimuat 2 kali. Untuk advokasi, kami berencana akan melakukan hearing ke DPRD bulan Januari ini.<\/p>\n\n\n\n
Karena Pekka pula kini saya sering aktif di desa. Karena berani omong ceplas ceplos, saya terpilih menjadi anggota BPD di desa Wringin Gintung. Dan karena saya terpilih menjadi Ketua Serikat Pekka Jawa Tengah, saat Pileg bulan April 2014 saya dilamar untuk menjadi caleg beberapa partai, namun saya merasa belum siap. Saya yakin, jika lebih banyak perempuan kepala keluarga mengikuti Pekka, pasti akan banyak kemajuan bagi kaum perempuan.<\/p>\n","post_title":"Bangga Menjadi Jurnalis Warga Pekka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"bangga-menjadi-jurnalis-warga-pekka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-13 07:08:27","post_modified_gmt":"2021-01-13 07:08:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1561","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1555,"post_author":"4","post_date":"2021-01-12 01:58:22","post_date_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content":"\n
\u201cWaduh mbak\u2026seru banget pengalaman saya mengedit video ini, karena saat kita mengedit video di kampung sedang ada kasus banyak orang kesurupan\u2026.jadi kita mengedit dalam kondisi mencekam........\u201d. Itulah ungkapan Mala dan Maya tentang pengalaman mereka membuat video. Mala adalah Fasilitator Lapang PEKKA dan Maya kader Pekka dari Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireun, NAD. Mereka berdua dilatih oleh Seknas untuk membuat video komunitas tentang kehidupan pekka dan perempuan pada umumnya. Kebetulan daerahnya terpilih sebagai wilayah yang akan dikembangkan video komunitas. Dua kali pelatihan telah diikutinya dan diakhir pelatihan mereka turun kelapang untuk shooting.<\/p>\n\n\n\n
Sebelum mengambil gambar perlu menentukan tema yang akan diambil, lokasi dan alur cerita yang akan dibuat, dan persiapan lainnya. Untuk video pertama ini keputusan bulat untuk memilih tema poligami. Isu ini memang merupakan isu kontroversial dikalangan umat Muslim di Aceh dan di Indonesia pada umumnya. Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, tak terkecuali banyak terjadi kasus poligami. Karena rasa penasaran dan merasa tertantang, maka Mala dan Maya turun ke lapang dengan pasti sambil membayangkan proses pengambilan gambar yang akan mereka lakukan.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama yang diwawancara adalah seorang perempuan yang berstatus sebagai \u201cmadu\u201d atau istri kedua. Mala memulai mengisahkan pengalamannya mengambil gambar di lapangan : \u201cTernyata mbak......tidaklah mudah mengambil gambar untuk isu ini, karena poligami merupakan isu yang sangat sensitif. Terlebih responden ini adalah orang yang sedang menjalani hidup dengan suami orang. Dan dia merasa keberatan apabila suatu saat video ini diputar di masyarakat, maka akan ketahuan oleh orang lain. Mungkin kalau hanya sekedar wawancara tanpa gambar akan lebih mudah\u201d. Karena keterbatasan dalam pengambilan gambar, maka Mala dan Maya berganti tema. Ternyata kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.<\/p>\n\n\n\n
Tema baru yang dipilih adalah yang masih dekat-dekat dengan isu poligami yaitu istri-istri yang diabaikan, hanya saja dari sisi berbeda yaitu istri yang menjadi korban poligami. Narasumber yang diambil ada 4 orang, keseluruhannya adalah perempun yang ditinggal oleh suaminya. Proses pengambilan gambar berjalan dengan baik, karena keempat responden tersebut sudah kenal sebelumnya. Mungkin karena sudah kenal, maka lebih mudah dalam proses pengambilan gambar.<\/p>\n\n\n\n
Narasumber pertama adalah Suryani, anggota kelompok Pekka yang ditinggal oleh suami. Proses wawancara tidak lancar, karena Suryani dalam kondisi sakit, kurang darah dan sempat pingsan sehingga pengambilan gambar tersendat, walaupun akhirnya selesai juga. Diteruskan dengan narasumber kedua ibu Nurma yang berstatus sebagai guru. Karena kesibukannya sebagai guru maka pengambilan gambar dilakukan jam 3 sore hari sesudah pulang mengajar. Awal wawancara dan pengambilan gambar berjalan mulus, namun saat sedang asyik mengambil gambar, terdengar musik yang cukup keras dari kios sebelah rumahnya, karena tidak mungkin untuk meminta mereka mematikan musiknya, kegiatan berhenti sebentar. Saat musik mereda kegiatan pengambilan gambar diteruskan. Belum juga selesai, ada gangguan lain. Tetangganya punya anak perempuan gila, berteriak-teriak dengan keras, sehingga sangat mengganggu, kembali dengan terpaksa kegiatan dihentikan, selain dari itu hari sudah sore menjelang maghrib. Biasanya orang Aceh tidak akan mau diganggu pada saat menjelang maghrib ini, mereka akan siap-siap untuk sholat dan mempersiapkan makan malam untuk keluarganya. Kegiatan dilanjutkan esok harinya, dan berhasil menyelesaikan pengambilan gambar Ibu Nurma.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan rekomendasi Ibu Nurma, wawancara ketiga dengan ibu Ti Sadiqoh, tetangganya yang punya anak gila itu. Kisah hidupnya cukup tragis. Di awal pernikahannya, dia suka ngamuk seperti orang gila, katanya itu terjadi karena diguna-guna orang. Setiap dia kambuh, suaminya sering memukul dia. Lama kelamaan suaminya tidak tahan dan meninggalkan dia saat punya anak 3 orang. Dia ditinggal suaminya, sementara anaknya yang nomer dua perempuan, gila, diperkosa orang yang menyebabkan kehamilan. Saat ini, baru saja melahirkan dan kemudian menjadi tanggung jawabnya untuk mengurus cucunya.<\/p>\n\n\n\n
Mengingat kondisinya yang begitu susah, Mala dan Maya minta bantuan bu Nurma bicara kepada bu Ti Sadiqoh untuk meminta ijin pengambilan gambar dirinya. Bu Nurma menyarankan agar ambil gambarnya jangan kentara takut mengganggu dia yang sedang susah. Karena tidak sabar, akhirnya Mala dan Maya memberanikan diri untuk langsung bicara ke ibu Ti Sadiqoh. Saat mengutarakan maksudnya, Bu Ti Sadiqoh mau menerima dan berkata : \u201cTapi....saya tidak bisa bicara....\u201d. Maya meyakinkan : \u201cGak usah takut Bu... bicara aja apa adanya, nanti kan kami potong-potong lagi gambar ini....dan diatur lagi kata-kata Ibu...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Mala menuturkan sulitnya mengambil gambar Bu Ti Sadiqoh : \u201cRepot juga mbak.... ambil gambar bu Ti Sadiqoh ini, saat kami sedang wawancara, anaknya yang gila ini duduk di dekat ibunya, sesekali mengintip ke kamera sambil nyanyi-nyanyi, kadang mengajak ngobrol kami. Kami harus meladeni dia mbak....kalau tidak, dia akan panggil nama kita keras-keras.....pokoknya ada-ada saja mbak gangguannya, akhirnya kami lega saat selesai urusan ambil gambar Bu Ti Sadiqoh ini\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Berikutnya, Mala dan Maya mengambil gambar Bu Nurmalawati. \u201cKisah tragis juga terjadi pada dirinya mbak....\u201d, kata Maya memulai critanya. \u201cIbu Nurmalawati ditinggal suaminya menikah lagi dan menanggung 3 anaknya seorang diri. Kisah sedih berawal dari suaminya yang menuduh dia selingkuh, walaupun itu tidak terbukti. Kemudian rumah yang mereka tinggali dibakar suaminya, dan mengusir dia pergi dengan membawa ketiga anaknya\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kondisi sangat susah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Bu Nurmalawati pergi kerumah orangtuanya. Namun ternyata orangtuanya menolaknya. Akhirnya dia pergi ke kepala desa, dan mengadukan kasusnya. Kepala Desa melakukan pendekatan kepada orangtuanya dan akhirnya menerima dia tinggal dirumah orangtuanya selama 3 tahun sampai masalahnya selesai dengan suaminya. \u201cBegitulah adat Aceh mbak...selama seorang perempuan masih terikat perkawinan dengan suaminya, maka apapun yang terjadi padanya tidak boleh pulang kerumah, walaupun dia jadi korban KDRT. Bila pulang kerumah orangtua, maka seakan-akan orangtuanya menampung istri orang, walaupun itu anak sendiri tanpa melihat kasus latar belakangnya\u201d. Maya melanjutkan kisah Bu Nurmalawati : \u201cUntuk melanjutkan hidupnya, Bu Nurmalawati kerja jadi buruh batu bata dan buruh tani. Dia berhasil membuat gubug sangat sederhana, sebenarnya sih.... tidak layak dihuni mbak, dinding terbuat dari seng bolong-bolong yang dia pungut dari tetangganya, atap bocor disana-sini, baju sekolah anaknya adalah baju bekas orang lain karena dia tidak mampu membeli. Dia sangat miskin, tidak punya apa-apa, dan hidupnya semakin susah saja. Selama sekitar 7 tahun dia hidup susah seperti itu, dia akhirnya mengurus gugat cerai suaminya dan sudah putus....sekarang sudah sah jadi janda\u201d, Mala mengakhiri ceritanya dengan suara terputus-putus menahan haru. \u201cTernyata, mengambil video merekam kehidupan orang lain banyak dukanya...., tidak hanya dari segi masalah gangguan tekhnis, namun juga pengaruh kepada emosi saya. Serasa sesak mendengar kisah-kisah mereka.....banyak perempuan yang mengalami kekerasan dalam kehidupannya. Sementara orang lain tidak peduli, ditambah lagi nilai adat yang tidak memihak kaum perempuan bahkan menyengsarakannya...\u201d.<\/p>\n\n\n\n
Di akhir video yang dibuat, Mala dan Maya berhasil menampilkan 3 sosok laki-laki, untuk memberikan pandangan dan pendapat mereka tentang poligami. Dari laki-laki pelaku poligami mengaku bahwa dia tidak bisa berbuat adil, sangat sulit syarat yang satu ini untuk dilaksanakan. Diakui juga oleh petugas KUA tentang hal ini, dan menambahkan dalam kasus poligami maka perempuan yang jadi korban. Terlebih banyak kasus di Aceh ini adalah nikah di bawah tangan, maka perempuan tidak dapat memperoleh harta gono-gini bila hal buruk terjadi pada perkawinannya.<\/p>\n\n\n\n
Pengambilan gambar akhirnya selesai dilakukan Mala dan Maya. Sampailah mereka pada proses akhir yaitu editting. \u201cProses edit mbak... waduh, capek deh!. Ada crita seru mbak. Kami pulang ke center, edit dilakukan disana siang hari. Malam kami tidur di rumah kader pekka. Ternyata ada anaknya yang sedang kesurupan cukup parah, paling parah malah. Malam kami tidak bisa tidur, suasana mencekam, ih....takut. Akhirnya kami dapat menyelesaikan video ini selama 4 hari, walaupun kami merasa belum puas\u201d. Berdasarkan pengalaman pertamanya membuat video, Mala dan Maya merencanakan akan berupaya rajin mengambil gambar khususnya untuk momen-momen tertentu, siapa tahu gambar itu akan dibutuhkan suatu saat nanti.<\/p>\n","post_title":"Mengembangkan Video Komunitas di Bireun, Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengembangkan-video-komunitas-di-bireun-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-01-12 01:58:22","post_modified_gmt":"2021-01-12 01:58:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1555","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1498,"post_author":"4","post_date":"2020-11-26 04:04:05","post_date_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content":"\n
Pada tanggal 4 Maret - 6 orang pekka dari NAD telah berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan magang kaos dan sablon selama 6 hari penuh dan nantinya akan kembali ke NAD tanggal 11 Maret.\u00a0 Mereka adalah : Zainab (Tangan-tangan, Abdya), Siti Hawa (Kuala Batee, Abdya), Eli Safrina (Darul Makmur, Nagan Raya), Syaribanun (Darul Ikhsan, Aceh Timur), Roslina (Mutiara Timur, Pidie) dan Yulidar (Sk. Makmur, Aceh Besar).<\/p>\n\n\n\n
Selama di Bandung mereka tinggal di salah satu rumah produksi kaos untuk belajar dan praktek langsung untuk membuat kaos \u2013 mulai dari membuat pola, memotong bahan dan menjahitnya menjadi kaos. Hasilnya mereka mampu membuat kaos baik tanpa kerah maupun dengan kerah. Mereka juga belajar sablon sederhana mulai dari membuat pola cetak pada screen sablon dan menyablonnya pada bahan kaos yang ada. Pada beberapa kesempatan juga diberikan materi untuk memotivasi usaha mereka.<\/p>\n\n\n\n
Di waktu yang berbeda mereka diajak untuk melakukan kunjungan ke sumber bahan agar mengenal aneka bahan kaos dan harganya, pedagang mesin untuk produksi kaos (jahit, obras, overdeck dan potong) baik yang baru maupun seken\/second agar mengetahui perbandingan harga alat, pusat sablon untuk melihat peralatan dan harganya untuk pembuatan sablon sederhana hingga yang otomatis serta bordir kaos dengan mesin untuk meniru ide bordir pada kaos sesuai kebutuhan dan kemampuan. Pada saat yang sama mereka juga berkunjung ke beberapa toko yang menjual kaos untuk melihat berbagai ide pengembangan yang bisa dilakukan dengan kaos.<\/p>\n\n\n\n
Yang patut dihargai adalah semangat mereka untuk terus belajar \u2013 bahkan hingga larut malam mereka sibuk berkutat dengan mesin jahit untuk mencoba berbagai tehnik baru yang baru mereka pelajari. Memang walau pada dasarnya mereka bisa menjahit \u2013 tetapi untuk menjahit kaos adalah hal yang berbeda. Mesin jahit yang harus dikuasai karena dinamo yang lebih besar dan tehnik-tehnik baru, penggunaan mesin overdeck yang mampu mempercepat proses, karena mampu menjahit 2 garis lurus sekaligus dan obras disebaliknya, mesin obras yang mempunyai benang 4 (biasa 3 benang) dan beberapa alat tambahan. Dukungan dari pengajar yang sangat menguasai tehnis dan kerelaan untuk mendampingi tanpa batas waktu merupakan faktor yang sangat membantu.<\/p>\n\n\n\n
Pada hari akhir mereka difasilitasi untuk membuat perencaan kegiatan yang akan dilakukan di wilayah mereka masing-masing setibanya nanti. Rencana ini disesuaikan dengan kemampuan yang masing-masing peserta miliki dan kondisi sumberdaya di wilayahnya. Agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di pelatihan dan rencana saja, maka untuk setiap wilayah dibekali dengan bahan kaos dan perlengkapan sablon.<\/p>\n","post_title":"Magang Kaos & Sablon di Bandung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"magang-kaos-sablon-di-bandung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-26 04:04:05","post_modified_gmt":"2020-11-26 04:04:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1498","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
Sumatera Barat merupakan salah satu daerah perluasan kerja PEKKA. Selama kurun waktu tiga tahun melakukan pemberdayaan dan pendampingan terhadap perempuan...