Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Ernawati, kader Pekka Aceh Selatan<\/strong><\/p>\n","post_title":"Masih perlunya pendampingan Kader","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"masih-perlunya-pendampingan-kader","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-18 07:48:31","post_modified_gmt":"2020-11-18 07:48:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1394","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1372,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 04:07:53","post_date_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content":"\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Memang sudah ada kader namun belum mampu untuk menyampaikan pendapat dan masih dibutuhkan pendampingan untuk penguatan kelompok. Selama ini belum terbiasa berbicara dengan orang banyak dan masih perlu pelatihan. Serikat Pekka Aceh Barat sangat memerlukan pendampingan lagi, selama ini terus melakukan pertemuan dan membuat usaha semampunya apalagi dua kelompok belum mendapatkan pelatihan visi misi berkelompok maka sangatlah dibutuhkan pendampingan untuk memotivasi lagi kelompok Pekka.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Ernawati, kader Pekka Aceh Selatan<\/strong><\/p>\n","post_title":"Masih perlunya pendampingan Kader","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"masih-perlunya-pendampingan-kader","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-18 07:48:31","post_modified_gmt":"2020-11-18 07:48:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1394","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1372,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 04:07:53","post_date_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content":"\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Di bulan November melakukan pertemuan lagi ada yang membahas tentang usaha kelompok dan pengembangan bisnis usaha yang nantik akan dimasukan Pekka Alue Sundak dan pertemuan rutin tentang rencana untuk bulan depan.<\/p>\n\n\n\n
Memang sudah ada kader namun belum mampu untuk menyampaikan pendapat dan masih dibutuhkan pendampingan untuk penguatan kelompok. Selama ini belum terbiasa berbicara dengan orang banyak dan masih perlu pelatihan. Serikat Pekka Aceh Barat sangat memerlukan pendampingan lagi, selama ini terus melakukan pertemuan dan membuat usaha semampunya apalagi dua kelompok belum mendapatkan pelatihan visi misi berkelompok maka sangatlah dibutuhkan pendampingan untuk memotivasi lagi kelompok Pekka.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Ernawati, kader Pekka Aceh Selatan<\/strong><\/p>\n","post_title":"Masih perlunya pendampingan Kader","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"masih-perlunya-pendampingan-kader","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-18 07:48:31","post_modified_gmt":"2020-11-18 07:48:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1394","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1372,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 04:07:53","post_date_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content":"\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Dari beberapa orang pengurus bercerita lewat melalui grup medsos selama Pekka masuk di Aceh Barat khususnya Kecamatan Arongan Lambalek banyak perubahan yang dirasakan dan ingin terus belajar, bukan saja diri sendiri bahkan untuk semua masyarakat juga merasakan perubahan.<\/p>\n\n\n\n
Di bulan November melakukan pertemuan lagi ada yang membahas tentang usaha kelompok dan pengembangan bisnis usaha yang nantik akan dimasukan Pekka Alue Sundak dan pertemuan rutin tentang rencana untuk bulan depan.<\/p>\n\n\n\n
Memang sudah ada kader namun belum mampu untuk menyampaikan pendapat dan masih dibutuhkan pendampingan untuk penguatan kelompok. Selama ini belum terbiasa berbicara dengan orang banyak dan masih perlu pelatihan. Serikat Pekka Aceh Barat sangat memerlukan pendampingan lagi, selama ini terus melakukan pertemuan dan membuat usaha semampunya apalagi dua kelompok belum mendapatkan pelatihan visi misi berkelompok maka sangatlah dibutuhkan pendampingan untuk memotivasi lagi kelompok Pekka.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Ernawati, kader Pekka Aceh Selatan<\/strong><\/p>\n","post_title":"Masih perlunya pendampingan Kader","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"masih-perlunya-pendampingan-kader","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-18 07:48:31","post_modified_gmt":"2020-11-18 07:48:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1394","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1372,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 04:07:53","post_date_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content":"\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Semua kelompok Pekka di Aceh Barat belum mampu untuk mengembangluaskan Pekka dikarenakan masih adanya sifat malu pada diri sendiri, dengan itu selalu berharap masih perlu pendampingan untuk kelompok Pekka yang ingin banyak belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n
Dari beberapa orang pengurus bercerita lewat melalui grup medsos selama Pekka masuk di Aceh Barat khususnya Kecamatan Arongan Lambalek banyak perubahan yang dirasakan dan ingin terus belajar, bukan saja diri sendiri bahkan untuk semua masyarakat juga merasakan perubahan.<\/p>\n\n\n\n
Di bulan November melakukan pertemuan lagi ada yang membahas tentang usaha kelompok dan pengembangan bisnis usaha yang nantik akan dimasukan Pekka Alue Sundak dan pertemuan rutin tentang rencana untuk bulan depan.<\/p>\n\n\n\n
Memang sudah ada kader namun belum mampu untuk menyampaikan pendapat dan masih dibutuhkan pendampingan untuk penguatan kelompok. Selama ini belum terbiasa berbicara dengan orang banyak dan masih perlu pelatihan. Serikat Pekka Aceh Barat sangat memerlukan pendampingan lagi, selama ini terus melakukan pertemuan dan membuat usaha semampunya apalagi dua kelompok belum mendapatkan pelatihan visi misi berkelompok maka sangatlah dibutuhkan pendampingan untuk memotivasi lagi kelompok Pekka.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Ernawati, kader Pekka Aceh Selatan<\/strong><\/p>\n","post_title":"Masih perlunya pendampingan Kader","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"masih-perlunya-pendampingan-kader","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-18 07:48:31","post_modified_gmt":"2020-11-18 07:48:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1394","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1372,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 04:07:53","post_date_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content":"\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Mereka terus melakukan pertemuan dengan membuat kegiatan seperti sabun cair cuci piring, kalau mengenai yang keterampilan lain belum begitu tahu. Memang banyak dijelaskan mengenai Pekka lewat grup WhatsApp<\/em> namun belum merasa puas, kelompok masih mengharapkan pendampingan seorang kader yang bisa memberikan motivasi bagi perempuan desa yang ingin melakukan perubahan baik itu dari pengembangan usaha dan pemikiran yang belum mengerti tentang banyak hal.<\/p>\n\n\n\n
Semua kelompok Pekka di Aceh Barat belum mampu untuk mengembangluaskan Pekka dikarenakan masih adanya sifat malu pada diri sendiri, dengan itu selalu berharap masih perlu pendampingan untuk kelompok Pekka yang ingin banyak belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n
Dari beberapa orang pengurus bercerita lewat melalui grup medsos selama Pekka masuk di Aceh Barat khususnya Kecamatan Arongan Lambalek banyak perubahan yang dirasakan dan ingin terus belajar, bukan saja diri sendiri bahkan untuk semua masyarakat juga merasakan perubahan.<\/p>\n\n\n\n
Di bulan November melakukan pertemuan lagi ada yang membahas tentang usaha kelompok dan pengembangan bisnis usaha yang nantik akan dimasukan Pekka Alue Sundak dan pertemuan rutin tentang rencana untuk bulan depan.<\/p>\n\n\n\n
Memang sudah ada kader namun belum mampu untuk menyampaikan pendapat dan masih dibutuhkan pendampingan untuk penguatan kelompok. Selama ini belum terbiasa berbicara dengan orang banyak dan masih perlu pelatihan. Serikat Pekka Aceh Barat sangat memerlukan pendampingan lagi, selama ini terus melakukan pertemuan dan membuat usaha semampunya apalagi dua kelompok belum mendapatkan pelatihan visi misi berkelompok maka sangatlah dibutuhkan pendampingan untuk memotivasi lagi kelompok Pekka.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Ernawati, kader Pekka Aceh Selatan<\/strong><\/p>\n","post_title":"Masih perlunya pendampingan Kader","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"masih-perlunya-pendampingan-kader","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-18 07:48:31","post_modified_gmt":"2020-11-18 07:48:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1394","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1372,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 04:07:53","post_date_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content":"\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Di Aceh Barat ada lima kelompok Pekka, dua di antaranya baru terbentuk semenjak pandemi bulan Maret lalu yaitu Desa Suak Ie Beuso dan Alue Sundak. Setiap bulan kelompok ini terus melakukan kegiatan bulanannya.<\/p>\n\n\n\n
Mereka terus melakukan pertemuan dengan membuat kegiatan seperti sabun cair cuci piring, kalau mengenai yang keterampilan lain belum begitu tahu. Memang banyak dijelaskan mengenai Pekka lewat grup WhatsApp<\/em> namun belum merasa puas, kelompok masih mengharapkan pendampingan seorang kader yang bisa memberikan motivasi bagi perempuan desa yang ingin melakukan perubahan baik itu dari pengembangan usaha dan pemikiran yang belum mengerti tentang banyak hal.<\/p>\n\n\n\n
Semua kelompok Pekka di Aceh Barat belum mampu untuk mengembangluaskan Pekka dikarenakan masih adanya sifat malu pada diri sendiri, dengan itu selalu berharap masih perlu pendampingan untuk kelompok Pekka yang ingin banyak belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n
Dari beberapa orang pengurus bercerita lewat melalui grup medsos selama Pekka masuk di Aceh Barat khususnya Kecamatan Arongan Lambalek banyak perubahan yang dirasakan dan ingin terus belajar, bukan saja diri sendiri bahkan untuk semua masyarakat juga merasakan perubahan.<\/p>\n\n\n\n
Di bulan November melakukan pertemuan lagi ada yang membahas tentang usaha kelompok dan pengembangan bisnis usaha yang nantik akan dimasukan Pekka Alue Sundak dan pertemuan rutin tentang rencana untuk bulan depan.<\/p>\n\n\n\n
Memang sudah ada kader namun belum mampu untuk menyampaikan pendapat dan masih dibutuhkan pendampingan untuk penguatan kelompok. Selama ini belum terbiasa berbicara dengan orang banyak dan masih perlu pelatihan. Serikat Pekka Aceh Barat sangat memerlukan pendampingan lagi, selama ini terus melakukan pertemuan dan membuat usaha semampunya apalagi dua kelompok belum mendapatkan pelatihan visi misi berkelompok maka sangatlah dibutuhkan pendampingan untuk memotivasi lagi kelompok Pekka.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Ernawati, kader Pekka Aceh Selatan<\/strong><\/p>\n","post_title":"Masih perlunya pendampingan Kader","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"masih-perlunya-pendampingan-kader","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-18 07:48:31","post_modified_gmt":"2020-11-18 07:48:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1394","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1372,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 04:07:53","post_date_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content":"\n
Waktu\nmenunjukkan pukul 09.30 WITA. Alumni Paradigta angkatan 1 \u2013 3 mulai memadati\nhalaman Center Pekka Seni Tawa, Desa Lewobelolong, Kecamatan Ile Boleng,\nKabupaten Flores Timur. Di aula utama terlihat para mentor, panitia, Bernadete\nDeram Faslap Pekka NTT dan Nunung Nurnaningrum dari Yayasan PEKKA tengah\nmenyalami para alumni.<\/p>\n\n\n\n
Hari itu berkumpulah\n47 alumni dalam forum alumni Paradigta. Secara umum tujuan kegiatan ini adalah\nuntuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar lebih transformatif dan adil gender.\nSecara khusus tujuan adalah mendokumentasikan pengalaman alumni dalam\nmenerapkan keterampilan dan pengetahuan yang didapat di akademi Paradigta dalam\nmasyarakat, menggali tantangan dan hambatan yang dihadapi masyarakat, mendapat\nmasukan dari alumni terkait modul yang relevan dengan aktivitas masyarakat dan\nbersinergi dengan Serikat Pekka (merumuskan agenda alumni guna mendukung\ngerakan Pekka). \n \n<\/p>\n\n\n\n
Hari itu\nalumni dibagi dalam enam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil diskusi, alumni\nmenyampaikan bahwa ada pencapaian setelah lulus dari akademi Paradigta menjadi\nlebih percaya diri, terlibat dalam musrenbangdes dan memberikan usulan-usulan,\nmenjadi penggerak sanggar seni, pengelola BUMDes, motivator pemanfaatan sampah\nplastik, motivator kedaulatan pangan, akses dana desa, bendahara Kapespam\n(program pamsimas, penjaringan air minum), pengurus PKK, pengurus dasawisma,\npengurus karang taruna, tim perumus RKPDes, pengurus Anggur Merah, terlibat\ndalam advokasi anggaran, aparat desa, anggota BPD, pelaksana tugas Sekdes dan\nada juga perubahan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n
Namun masih\nbanyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan\nyang diperolah dari akademi Paradigta di masyarakat. Tantangannya adalah tidak\nada tanggapan positif dari Pemdes tentang Perdes kematian, tidak dapat alokasi\ndana desa untuk transport akademi Paradigta, cibiran dan ejekan masyarakat,\nbelum ada kesadaran masyarakat dalam menjalankan Perdes penyederhanaan adat\nkematian, masyarakat kurang paham pentingnya keterampilan yang didapat di akademi\nParadigta, Pemdes tidak mau memberikan dokumen APBDes, perempuan kurang\ndidengar, tidak bisa mempertahankan argumen, terpaku pada aturan, tidak membaca\nnomenklatur (maksudnya mereka berbicara di luar aturan), tidak ada dukungan\ndari perempuan, kurang pemahaman dari masyarakat tentang akademi Paradigta,\ndilarang suami, sibuk dengan usaha, sibuk dengan keluarga.<\/p>\n\n\n\n
Masih ada\nalumni yang merasa suara atau pendapat dari laki-laki yang benar karena bagi\nmereka laki-laki itu iman sehingga tidak bisa dibantah, sertifikat Paradigta tidak\ndiakui, merasa disaingi teman, masyarakat tidak mengakui pengalaman dari\nparadigta.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan\nhasil refleksi, modul Paradigta yang relevan dan sesuai kebutuhan di desa\nadalah Perempuan dan APBDes, Perempuan dan Kedaulatan Pangan, Perempuan\nMengorganisir Desanya, Perempuan dan Desa Harapan, Perempuan Pemimpin di Ranah\nPublik, Perempuan dan keterlibatan di Desa, serta Perempuan dan Peraturan Desa.<\/p>\n\n\n\n
Harapannya\nke depan alumni dapat bersinergi dengan Serikat Pekka untuk mensosialisasikan\ntentang Akademi Paradigta, berkontribusi dalam pembangunan di desa masing-masing\ndan mendorong adanya BUMDes. <\/p>\n\n\n\n
Para alumni\njuga memandang penting untuk membentuk forum alumni Paradigta sebagai wadah\nuntuk berbagi pengalaman dari masing-masing desa, ikatan untuk akademi angkatan\n1-3 untuk selalu berbagi informasi, ajang refleksi tahunan, memotivasi\nperempuan lain yang belum mengikuti Paradigta, advokasi kebijakan, mengubah\npola pikir, keberlanjutan program, menyusun program kerja yang terarah dan\nmemperkuat jaringan, dll. Sehingga di akhir kegitan ini terbentuklah Forum\nAlumni Paradigta Kabupaten Flores Timur dengan Ina Flora Tokan sebagai\npenanggung jawab umum dan dibantu oleh PJ Wilayah yaitu Yanti Paty dan Bibiana\nsebagi PJ Wilayah Lodan Doe serta Maria Bulu Olu dan Maria Goreti Dari Doni\nsebagai PJ Wilayah Seni Tawa. Adapun agenda yang akan dilakukan oleh forum\nalumni mendatang tepatnya pada bulan Juli 2020 adalah festival makanan lokal.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor Kornelia Bunga, kader Pekka NTT<\/strong><\/p>\n","post_title":"Forum Alumni Paradigta Sebagai Wadah Berbagi Pengalaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"forum-alumni-paradigta-sebagai-wadah-berbagi-pengalaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 04:07:53","post_modified_gmt":"2020-11-17 04:07:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1372","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1369,"post_author":"4","post_date":"2020-11-17 02:52:46","post_date_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content":"\n
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Perdesaan dilaksanakan di Aula kantor Lurah Sungai Pinyuh, Kec. Sungai Pinyuh, Kab. Mempawah, Kalbar, mulai 16 -18 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan selama tiga hari hasil kerjasama PEKKA dan KPPPA ini diikuti oleh 15 orang peserta dari 4 desa yang terdiri dari: ketua PKK, ketua RT, ketua Posyandu dan ketua BPD. <\/p>\n\n\n\n
Pelatihan virtual pertama di masa pandemi Covid 19, yang dapat langsung difasilitasi oleh Yayasan PEKKA. Diawali dengan do'a dan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh kelas Lembata NTT, dan dilanjutkan sambutan dari Bunda Nani Zulminarni selaku Direktur Yayasan PEKKA, juga sambutan Camat Lembata yang mendukung dan memberi semangat kepada peserta kelas kepemimpinan di wilayahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal yang berbeda aku rasakan, karena suasana dan aktifitas kelas langsung dipantau oleh Seknas dan Pak Mulyono serta mbak Agnes, Deputi KPPPA pusat yang hadir memantau kegiatan kelas Mempawah hari ini. Hadir juga sebagai narasumber KPPPA provinsi Kalbar dan KPPPA Kabupaten Mempawah.<\/p>\n\n\n\n
Kontributor: Karmani, kader Pekka Kalimantan Barat<\/strong><\/p>\n","post_title":"Kepemimpinan Perempun Perdesaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kepemimpinan-perempun-perdesaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-17 02:52:46","post_modified_gmt":"2020-11-17 02:52:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1369","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1366,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 07:25:52","post_date_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content":"\n
Wajah anggota Serikat Pekka Aceh Barat Daya tampak berseri-seri. Mereka\nberbagi tugas untuk menjadi panitia peresmian Center Pekka di kecamatan Kuala\nBatee. Bapak Akmal Ibrahim, selaku Bupati Aceh Barat Daya menggunting pita\nsebagai tanda peresmian Center Pekka. Setelah bergelut dengan kotoran dari\npasir, semen dan batu bata, akhirnya ibu-ibu bisa menatap dan menggunakan\nrumahnya dengan bangga, Kamis, 3 Juni 2010.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan Center memakan waktu sekitar\ndua setengah bulan. Ibu-ibu anggota serikat bergantian tugas mengawasi proses\npembangunan. Mereka juga bergotong-royong mengangkut debu dari kilang padi\nsebagai timbunan di halaman Center. Kemudian atasnya baru ditimbun dengan\npasir. Mereka bukanlah arsitek atau orang yang memahami bangunan, dengan\nmenjadi pengawas bangunan mereka jadi paham cara membangun rumah yang kokoh\ndengan dana minimal.<\/p>\n\n\n\n
Guna menutupi pembiayaan pembangunan\nCenter, pengurus serikat Pekka mendapat dukungan dana dari JSDF melalui bank\ndunia, dan swadaya anggota, serta sumbangan dari tokoh masyarakat dalam bentuk\nbarang yang jika diuangkan berkisar 2 juta rupiah. Serikat juga mengajukan\nusulan pada pemerintah kabupaten, tapi belum mendapatkan tanggapan. Dengan\nketerbatasan tersebut Pekka belum menyelesaikan pembangunan tersebut, mereka\nmemfokuskan penyelesaian ruangan untuk radio komunitas dan LKM. Sementara jendela dan plester bagian luar\nbelum dilakukan.<\/p>\n\n\n\n
Sebelumnya, serikat Pekka mengontrak rumah\nsebagai Center atau pusat kegiatan Pekka di kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat\nDaya dan sekitarnya. Di tempat tersebut, Pekka melakukan berbagai kegiatan\nseperti; siaran radio komunitas, pertemuan serikat Pekka tingkat desa dan\nkecamatan, pertemuan LKM, pelatihan,\nusaha kaos dan lain sebaginya. Anggota Pekka cukup bangga dengan adanya Center\nini, mereka merasa memiliki kantor seperti organisasi lainnya. Sehingga mereka\nberharap suatu hari nanti agar Center tersebut berada di bangunan yang dimiliki\nsendiri, dan mereka tidak perlu berpindah-pindah tempat lagi.<\/p>\n\n\n\n
Pertengahan tahun 2009, mulai mendiskusikan tentang pembangunan Center pada pertemuan perwakilan serikat di tingkat kecamatan. Motivasi membangun Center juga didorong oleh serikat Pekka di tiga kecamatan lain (Setia, Manggeng, dan Tangan-tangan) di Aceh Barat Daya yang telah terlebih dahulu membangun Center di Tangan-tangan. Selanjutnya ibu-ibu mulai mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk dijangkau oleh anggota serikat. <\/p>\n\n\n\n
Jika dapat info tentang tanah dijual, ibu-ibu bilang tanah tersebut akan dipergunakan mereka pribadi. Jika masyarakat khususnya pemilik tanah tahu yang akan membeli adalah serikat Pekka, mereka akan menaikkan harga tanah. Masyarakat beranggapan Pekka memiliki uang banyak, karena bisa meminjami uang dan memiliki sarana seperti; radio komunitas, peralatan mesin jahit untuk produksi kaos dll. <\/p>\n\n\n\n
Padahal dana tersebut selain berasal dari pihak lain juga sebagian berasal dari simpanan swadaya anggota yang harus diputarkan. Sebenarnya Serikat Pekka termasuk LKM Pekka tidak memiliki dana banyak di rekeningnya. Setiap bulan banyak anggota Pekka yang harus mengantre untuk mendapatkan pinjaman karena jumlah dana di LKM Khairatunnissa terbatas.<\/p>\n","post_title":"Pembangunan Center di Aceh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pembangunan-center-di-aceh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-11-16 07:25:52","post_modified_gmt":"2020-11-16 07:25:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=1366","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1360,"post_author":"4","post_date":"2020-11-16 03:15:55","post_date_gmt":"2020-11-16 03:15:55","post_content":"\n
Buru-buru kurapikan\nsemua peralatan masak yang dipakai membuat Salome (Cilok) barusan agar jam\n10.30 Wita bisa bertemu dengan kelompok Pekka Ina Rangga Jao. <\/p>\n\n\n\n
Setelah\nmenghubungi Suhartati selaku pengurus Pekka sekaligus anggota BPD perwakilan perempuan,\nguna membahas beberapa produk olahan anggota Pekka Bima untuk disodorkan ke Yayasan\nPEKKA yang bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan\nPerlindungn Anak). <\/p>\n\n\n\n
Waktu dari\nkesepakatan awal sedikit bergeser karena terkendala pada motor tuaku saat aku\nmelaju. Tapi ini bukan masalah. Sebentar kugeret motor yang selalu setia\nmenemani perjalananku dan kutinggalkan motor tua di bengkel. <\/p>\n\n\n\n
Aku\nmelanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hitung- hitung olah raga siang\nalias sauna di bawah terik matahari. <\/p>\n\n\n\n
Dengan\nkeringat bercucuran sampai juga aku di antara ibu-ibu Pekka yang sedari tadi\nsabar menungguku. Terlihat wajah mereka melas melihat aku ngos-ngosan. <\/p>\n\n\n\n
Aku gak mau membuang\nwaktu. Langsung saja aku minta maaf atas keterlambatanku dan minta diri membuka\nacara secara singkat. Kemudian dilanjutkan ke pokok inti pertemuan. <\/p>\n\n\n\n
Informasi pertama mengenai Corona. Secara singkat \"Ada dan tidak adanya Corona. Kita tetap waspada dan jaga diri. Tetap mematuhi protokol Covid.<\/p>\n\n\n\n
Pekka Samili diutus oleh PEKKA untuk mengikuti pelatihan menjahit di Pon-Pes Almaliki Pena Pali untuk gelombang kedua. <\/p>\n\n\n\n
Sementara\ngelombang pertama saat ini ada 5 orang utusan Pekka sedang mengikuti pelatihan\nmenjahit yang dilaksanakan 30 hari sejak tgl 1 November 2020. <\/p>\n\n\n\n
Bagi yang\nberminat dianjurkan mendaftar dengan menyerahkan foto Copy KK KTP, IJAZAH serta\nno HP. <\/p>\n\n\n\n
Pekka Bima telah melakukan tanda tangan kerjasama dengan Universitas STKIP Taman Siswa Bima dalam rangka pengabdian kampus pada masyarakat. Yang rencananya akan ada pelatihan dan pembinaan keterampilan hidup bagi Pekka. Insyaallah awal tahun akan dimulai. <\/p>\n\n\n\n
PEKKA meminta Pekka Bima mengajukan produk apa yang dipasarkan. Selanjutnya dalam pembahasan poin keempat. Kami sepakat menawarkan 3 macam produk olahan kami. Yaitu: 1. Kain Tenunan Bima ( Tembe Nggoli). <\/p>\n\n\n\n
Dua kelompok Pekka yang berada di desa Samili dan Kalampa Kecamatan Woha adalah asli penenun kain Nggoli. Pada dasarnya menenun adalah mata pencaharian mereka. Mereka sudah lama fakum akibat bergesernya nilai kearifan lokal. Kain tenunan lebih mahal dari pada kain yang ada di pasar. Hanya orang-orang tertentulah yang sanggup membelinya. Sebab bahan dasarnya mahal dan benang nggolli yang bermutu. <\/p>\n\n\n\n
Maka harapan\nkami, dengan adanya dukungan dari Yayasan PEKKA dan KPPPA. Kegiatan tenun kain\nNggoli Bima bisa hidup kembali demi menjaga nilai kearifan lokal budaya Bima\ndan bisa meningkatkan kesejahteraan anggota Pekka yang siap menenun kembali\nbila ada pasaran yang mau menerima hasil tenunan aggota Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n
Selayang pandang tentang kain Nggoli <\/em><\/p>\n\n\n\n
Kain yang\nberukuran 2 meter kali 1 meter ini terbuat dari benang Nggoli pilihan. Corak\nwarna masing-masing desa memiliki khas tersendiri. <\/p>\n\n\n\n
Keunggulan\nlainnya yaitu bahan kain bisa beradaptasi dengan suhu. Bila musim dingin kain\nakan terasa hangat. Bila musim panas kain akan berasa dingin. <\/p>\n\n\n\n
Sangat awet\nbahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Untuk mencucinya diharapkan tidak\nmenggunakan mesin cuci. <\/p>\n\n\n\n
Tidak perlu\nkaget cucian pertama akan mengeluarkan tinta warna yang kental. Ini bukan luntur\ntetapi itu hanya proses pembuangan warna. Selanjutnya dijamin tidak akan\nluntur.<\/p>\n\n\n\n
Bagi pemesan\nbisa memesan sesuai selera warna. Sebab warna kain Nggoli dasarnya mencolok\nsesuai denga warna dasar pakaian adat Bima. <\/p>\n\n\n\n
Harga\nberkisar 300 ribu sampai 1 jutaan keatas sesuai dengan tingkat kesulitan corak\ntenun. Untuk menghasilkan satu kain bisa menghabiskan waktu 6 hari bahkan 1\nbulan. <\/p>\n\n\n\n
Kebayakan\nibu-ibu Pekka masih memiliki lahan pekarangan kosong dan beberapa kelompok ada\nyang berada di daerah perkebunan serta menjual kunyit bubuk. <\/p>\n\n\n\n
Maka kami\nberkeinginan pada kesempatan ini tepatnya 10 November yang merupakan hari\nPahlawan menjadi awal kami Pekka Bima sebagai pengolah rempah kunyit bubuk yang\ngo Nasional dan Internasional dibawa binaan PEKKA bersama KPPPA. <\/p>\n\n\n\n
kami\nmenobatkan diri sebagai pahlawan bagi keluarga dan pahlawan perubahan ekonomi\nkesejahteraan yang bermartabat baik untuk anggota maupun untuk masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n
Untuk Bahan dasar bubuk kunyit adalah kunyit. Yang berusia 10-12 bulan. Kegunaanya bukan rahasia umum lagi, bisa untuk bumbu dapur dan jamu kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Harapan kami\npada hari Pahlawan ini, Pekka Bima bisa bekerjasama dengan perusahaan Sido\nMuncul. Aamiin. <\/p>\n\n\n\n
Cara membuat\nbubuk kunyit pun mudah, gak pakai ribet walaupun masih dengan menggunakan\nperalatan tradisional. <\/p>\n\n\n\n
Selain kunyit,\nBima adalah daerah bagian Timu Indonesia yang terdiri dari hamparan gugus-gugus\ngunung yang ditumbuhi pohon asam. <\/p>\n\n\n\n
Ibu-ibu\nPekka bahkan anak-anak di waktu senggang, yang berasal dari desa Samili,\nKalampa dan Risa kebanyakan pencari buah asam yang jatuh untuk dijual. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kami membahas dan merancang langkah-langkah pengajuan ijin usaha dagang dan ijin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) <\/p>\n\n\n\n
Besok 11\nNovember 2020 kami bergerak mengurus yang berkaitan dengan yang tersebut di atas,\nsambil kami berkoordinasi dengan Faslap NTB. <\/p>\n\n\n\n
Itulah hasil\npembahasan pada pertemuan tadi yang bertempat di kediaman Bendahara Kelompok\nPekka Ina Rangga Jao. Dihadiri 12 anggota termasuk saya sebagai pendamping\nkelompok Pekka Bima.<\/p>\n\n\n\n