\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n
\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n
\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n
\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\n
\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n
\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan Asmawati pun tidak serta-merta langsung terhenti. Bersama kader-kader Pekka Kabupaten Kubu Raya dan juga dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya, ia terus bergerak ke desa-desa yang menjadi target kegiatan Yandu Isbat Nikah. Ia juga masih aktif mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Selain aktif mengikuti pelatihan, ia juga aktif melatih para kader Pekka dan pengurus Serikat Pekka dengan ilmu yang ia dapatkan dari pelatihan-pelatihan yang sudah ia ikuti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

\"Perempuan tidak boleh cengeng, bersedih, dan menyesali nasib. Kita harus bangkit dan tetap berjuang untuk kehidupan hari ini dan masa depan<\/em>\", ucap Asmawati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan Asmawati pun tidak serta-merta langsung terhenti. Bersama kader-kader Pekka Kabupaten Kubu Raya dan juga dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya, ia terus bergerak ke desa-desa yang menjadi target kegiatan Yandu Isbat Nikah. Ia juga masih aktif mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Selain aktif mengikuti pelatihan, ia juga aktif melatih para kader Pekka dan pengurus Serikat Pekka dengan ilmu yang ia dapatkan dari pelatihan-pelatihan yang sudah ia ikuti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Tak cukup dengan segudang kegiatan yang ia ikuti di Pekka, ia juga telah terpilih menjadi ketua RT (Rukun Tetangga) selama dua periode di lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Mawar, Parit Wakbibah, Desa Sungai Itik. Di waktu luangnya, Asmawati masih bekerja sebagai tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan kepala keluarga semakin membulatkan tekadnya untuk berjuang demi bisa menyelesaikan pendidikan bagi keempat putrinya, bahkan kalau bisa sampai ke jenjang sarjana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Perempuan tidak boleh cengeng, bersedih, dan menyesali nasib. Kita harus bangkit dan tetap berjuang untuk kehidupan hari ini dan masa depan<\/em>\", ucap Asmawati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan Asmawati pun tidak serta-merta langsung terhenti. Bersama kader-kader Pekka Kabupaten Kubu Raya dan juga dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya, ia terus bergerak ke desa-desa yang menjadi target kegiatan Yandu Isbat Nikah. Ia juga masih aktif mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Selain aktif mengikuti pelatihan, ia juga aktif melatih para kader Pekka dan pengurus Serikat Pekka dengan ilmu yang ia dapatkan dari pelatihan-pelatihan yang sudah ia ikuti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Ilmu yang telah ia dapatkan di Pekka telah membawa banyak manfaat, tak hanya bagi dirinya, namun juga bagi orang lain. Sebagai Ketua Serikat Pekka di tingkat provinsi dan kabupaten, ia disibukkan dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Serikat Pekka di wilayahnya, seperti menghadiri undangan dari Dinas dan Organisasi Massa (Ormas), mengadakan rapat koordinasi, melakukan advokasi kebijakan ke pemerintah, melakukan kegiatan sosial masyarakat, melaksanakan pendampingan kelompok dan juga pendampingan kasus hukum, mengikuti pelatihan-pelatihan, dll.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak cukup dengan segudang kegiatan yang ia ikuti di Pekka, ia juga telah terpilih menjadi ketua RT (Rukun Tetangga) selama dua periode di lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Mawar, Parit Wakbibah, Desa Sungai Itik. Di waktu luangnya, Asmawati masih bekerja sebagai tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan kepala keluarga semakin membulatkan tekadnya untuk berjuang demi bisa menyelesaikan pendidikan bagi keempat putrinya, bahkan kalau bisa sampai ke jenjang sarjana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Perempuan tidak boleh cengeng, bersedih, dan menyesali nasib. Kita harus bangkit dan tetap berjuang untuk kehidupan hari ini dan masa depan<\/em>\", ucap Asmawati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan Asmawati pun tidak serta-merta langsung terhenti. Bersama kader-kader Pekka Kabupaten Kubu Raya dan juga dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya, ia terus bergerak ke desa-desa yang menjadi target kegiatan Yandu Isbat Nikah. Ia juga masih aktif mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Selain aktif mengikuti pelatihan, ia juga aktif melatih para kader Pekka dan pengurus Serikat Pekka dengan ilmu yang ia dapatkan dari pelatihan-pelatihan yang sudah ia ikuti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Walau tidak tamat SMA, rasa percaya dirinya patut diacungi jempol. Rasa percaya dirinya perlahan-lahan muncul sejak ia rajin mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Tak hanya pelatihan di tingkat daerah, ia juga sering dilibatkan di pelatihan-pelatihan tingkat nasional bersama kader-kader Pekka terpilih yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ilmu yang telah ia dapatkan di Pekka telah membawa banyak manfaat, tak hanya bagi dirinya, namun juga bagi orang lain. Sebagai Ketua Serikat Pekka di tingkat provinsi dan kabupaten, ia disibukkan dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Serikat Pekka di wilayahnya, seperti menghadiri undangan dari Dinas dan Organisasi Massa (Ormas), mengadakan rapat koordinasi, melakukan advokasi kebijakan ke pemerintah, melakukan kegiatan sosial masyarakat, melaksanakan pendampingan kelompok dan juga pendampingan kasus hukum, mengikuti pelatihan-pelatihan, dll.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak cukup dengan segudang kegiatan yang ia ikuti di Pekka, ia juga telah terpilih menjadi ketua RT (Rukun Tetangga) selama dua periode di lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Mawar, Parit Wakbibah, Desa Sungai Itik. Di waktu luangnya, Asmawati masih bekerja sebagai tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan kepala keluarga semakin membulatkan tekadnya untuk berjuang demi bisa menyelesaikan pendidikan bagi keempat putrinya, bahkan kalau bisa sampai ke jenjang sarjana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Perempuan tidak boleh cengeng, bersedih, dan menyesali nasib. Kita harus bangkit dan tetap berjuang untuk kehidupan hari ini dan masa depan<\/em>\", ucap Asmawati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan Asmawati pun tidak serta-merta langsung terhenti. Bersama kader-kader Pekka Kabupaten Kubu Raya dan juga dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya, ia terus bergerak ke desa-desa yang menjadi target kegiatan Yandu Isbat Nikah. Ia juga masih aktif mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Selain aktif mengikuti pelatihan, ia juga aktif melatih para kader Pekka dan pengurus Serikat Pekka dengan ilmu yang ia dapatkan dari pelatihan-pelatihan yang sudah ia ikuti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n

Dialah Asmawati, seorang perempuan tangguh yang lahir di Kabupaten Sambas, 23 April 1977. Ia adalah seorang ibu dari empat orang putri, sekaligus seorang kepala keluarga di keluarga kecilnya. Ia telah bergabung di organisasi Pekka (Perempuan Kepala Keluarga) sejak 8 Januari 2011. Di awal ia bergabung dengan Pekka, ia ditunjuk menjadi ketua Kelompok Parwa di Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sekarang, perempuan paruh baya ini menjadi Ketua Serikat Pekka Kabupaten Kubu Raya, sekaligus Ketua Serikat Pekka Provinsi Kalimantan Barat. Ia terpilih pada saat Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) Serikat Pekka tahun 2016, menggantikan Mahdalena yang saat itu juga terpilih menjadi Ketua Federasi Serikat Pekka di tingkat nasional.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Walau tidak tamat SMA, rasa percaya dirinya patut diacungi jempol. Rasa percaya dirinya perlahan-lahan muncul sejak ia rajin mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Tak hanya pelatihan di tingkat daerah, ia juga sering dilibatkan di pelatihan-pelatihan tingkat nasional bersama kader-kader Pekka terpilih yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ilmu yang telah ia dapatkan di Pekka telah membawa banyak manfaat, tak hanya bagi dirinya, namun juga bagi orang lain. Sebagai Ketua Serikat Pekka di tingkat provinsi dan kabupaten, ia disibukkan dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Serikat Pekka di wilayahnya, seperti menghadiri undangan dari Dinas dan Organisasi Massa (Ormas), mengadakan rapat koordinasi, melakukan advokasi kebijakan ke pemerintah, melakukan kegiatan sosial masyarakat, melaksanakan pendampingan kelompok dan juga pendampingan kasus hukum, mengikuti pelatihan-pelatihan, dll.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak cukup dengan segudang kegiatan yang ia ikuti di Pekka, ia juga telah terpilih menjadi ketua RT (Rukun Tetangga) selama dua periode di lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Mawar, Parit Wakbibah, Desa Sungai Itik. Di waktu luangnya, Asmawati masih bekerja sebagai tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan kepala keluarga semakin membulatkan tekadnya untuk berjuang demi bisa menyelesaikan pendidikan bagi keempat putrinya, bahkan kalau bisa sampai ke jenjang sarjana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Perempuan tidak boleh cengeng, bersedih, dan menyesali nasib. Kita harus bangkit dan tetap berjuang untuk kehidupan hari ini dan masa depan<\/em>\", ucap Asmawati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan Asmawati pun tidak serta-merta langsung terhenti. Bersama kader-kader Pekka Kabupaten Kubu Raya dan juga dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya, ia terus bergerak ke desa-desa yang menjadi target kegiatan Yandu Isbat Nikah. Ia juga masih aktif mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Selain aktif mengikuti pelatihan, ia juga aktif melatih para kader Pekka dan pengurus Serikat Pekka dengan ilmu yang ia dapatkan dari pelatihan-pelatihan yang sudah ia ikuti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
\r\n\r\n\r\n

Dialah Asmawati, seorang perempuan tangguh yang lahir di Kabupaten Sambas, 23 April 1977. Ia adalah seorang ibu dari empat orang putri, sekaligus seorang kepala keluarga di keluarga kecilnya. Ia telah bergabung di organisasi Pekka (Perempuan Kepala Keluarga) sejak 8 Januari 2011. Di awal ia bergabung dengan Pekka, ia ditunjuk menjadi ketua Kelompok Parwa di Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sekarang, perempuan paruh baya ini menjadi Ketua Serikat Pekka Kabupaten Kubu Raya, sekaligus Ketua Serikat Pekka Provinsi Kalimantan Barat. Ia terpilih pada saat Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) Serikat Pekka tahun 2016, menggantikan Mahdalena yang saat itu juga terpilih menjadi Ketua Federasi Serikat Pekka di tingkat nasional.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Walau tidak tamat SMA, rasa percaya dirinya patut diacungi jempol. Rasa percaya dirinya perlahan-lahan muncul sejak ia rajin mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Tak hanya pelatihan di tingkat daerah, ia juga sering dilibatkan di pelatihan-pelatihan tingkat nasional bersama kader-kader Pekka terpilih yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ilmu yang telah ia dapatkan di Pekka telah membawa banyak manfaat, tak hanya bagi dirinya, namun juga bagi orang lain. Sebagai Ketua Serikat Pekka di tingkat provinsi dan kabupaten, ia disibukkan dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Serikat Pekka di wilayahnya, seperti menghadiri undangan dari Dinas dan Organisasi Massa (Ormas), mengadakan rapat koordinasi, melakukan advokasi kebijakan ke pemerintah, melakukan kegiatan sosial masyarakat, melaksanakan pendampingan kelompok dan juga pendampingan kasus hukum, mengikuti pelatihan-pelatihan, dll.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak cukup dengan segudang kegiatan yang ia ikuti di Pekka, ia juga telah terpilih menjadi ketua RT (Rukun Tetangga) selama dua periode di lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Mawar, Parit Wakbibah, Desa Sungai Itik. Di waktu luangnya, Asmawati masih bekerja sebagai tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan kepala keluarga semakin membulatkan tekadnya untuk berjuang demi bisa menyelesaikan pendidikan bagi keempat putrinya, bahkan kalau bisa sampai ke jenjang sarjana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Perempuan tidak boleh cengeng, bersedih, dan menyesali nasib. Kita harus bangkit dan tetap berjuang untuk kehidupan hari ini dan masa depan<\/em>\", ucap Asmawati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan Asmawati pun tidak serta-merta langsung terhenti. Bersama kader-kader Pekka Kabupaten Kubu Raya dan juga dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya, ia terus bergerak ke desa-desa yang menjadi target kegiatan Yandu Isbat Nikah. Ia juga masih aktif mengikuti pelatihan-pelatihan secara virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA. Selain aktif mengikuti pelatihan, ia juga aktif melatih para kader Pekka dan pengurus Serikat Pekka dengan ilmu yang ia dapatkan dari pelatihan-pelatihan yang sudah ia ikuti.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin erat, baik dengan sesama kader Pekka dan juga Pendamping Lapang membuatnya tidak merasa sendiri. Bersama Pekka, dibuangnya jauh-jauh rasa takutnya. Keputusan untuk menceraikan suaminya yang ingin berpoligami dengan resiko harus menafkahi keempat putrinya seorang diri, tentu menjadi cerita pahit dan juga pengalaman yang tidak terlupakan bagi dirinya. Bersama Serikat Pekka, Asmawati kini tumbuh menjadi sosok perempuan yang tangguh dan percaya diri, serta di tahun 2021 lalu, ia memutuskan untuk semakin meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya dengan mengikuti program penyetaraan paket C, dan ia juga telah lulus ujian. Ia juga mengajak para perempuan lain untuk menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya, agar mereka dapat menjadi perempuan yang semakin bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Karmani, Kader Pekka Kabupaten Kubu Raya<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Mengabdikan Diri untuk Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"asmawati-mengabdikan-diri-untuk-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:34:12","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:34:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2069,"post_author":"4","post_date":"2022-06-27 04:23:12","post_date_gmt":"2022-06-27 04:23:12","post_content":"\r\n

\r\n
Ibu Darniati (kiri) dan Kedua Temannya sedang Membuat Tusuk Sate<\/figcaption>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan besar, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini memberikan dampak negatif di berbagai bidang, seperti di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh ibu-ibu Pekka, khususnya ibu-ibu Pekka di Desa Tonralipue, Kecamatan Tana Sitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang mempunyai usaha pembuatan tusuk sate, penghasilannya menurun drastis.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, Darniati, perempuan kepala keluarga (Pekka) yang mencari nafkah bagi keluarga, sekaligus ibu yang harus mengasuh dan mendampingi anak belajar daring (online<\/em>) juga merasakan dampak negatif di tengah pandemi Covid-19. Membuat tusuk sate adalah mata pencaharian saya sehari-hari untuk menopang ekonomi keluarga. Di masa pandemi ini, saya mengalami kendala dalam penyaluran tusuk sate yang saya buat, pemasarannya menurun drastis, bahkan harganya pun ikut menurun. Dulu, harganya mencapai Rp3.000,-\/ikat, sekarang menjadi Rp2.500,-\/ikat. Sedangkan harga bambu naik, yang dulunya hanya Rp40.000 per karung, sekarang naik menjadi Rp50.000,- per karung, di mana per karungnya hanya dapat menghasilkan 50 ikat. Satu karung bambu membutuhkan waktu 10 hari pengerjaan. Jadi, saya hanya dapat mengerjakan 5 ikat per harinya, di mana satu ikat berisikan 350 biji tusuk sate.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan Serikat Pekka di Desa Tonralipue memberikan dampak yang besar dalam membangkitkan pemberdayaan Pekka, sehingga Pekka tidak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga diberikan peluang untuk bekerja dan berkarya. Pekka di Desa Tonralipue juga memberikan motivasi kepada perempuan untuk berwirausaha membuat tusuk sate. Usaha tusuk sate dijalankan agar dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang dialami. Semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, sehingga perekonomian di Indonesia perlahan-lahan akan kembali stabil seperti sediakala.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis: Darniati, Kader JWP Wajo<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Editor: Capella Latief<\/p>\r\n","post_title":"Tusuk Sate Penopang Ekonomi Keluarga","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"tusuk-sate-penopang-ekonomi-keluarga","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-11-02 09:28:47","post_modified_gmt":"2023-11-02 02:28:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2069","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2066,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 04:14:41","post_date_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content":"\n

\"\"
Jefri, Salah Satu Korban Banjir Bandang di Kabupaten Lembata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Selasa, 6 April 2021, saya dan seorang teman berkunjung ke tempat pengungsian korban banjir bandang di Kabupaten Lembata, tepatnya di Kota Lewoleba. Pada saat kami berkunjung, kami menemukan seorang laki-laki korban banjir yang terluka parah, di mana kedua kakinya terkena benturan batu yang membuat kedua kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Namanya Jefri, berusia 36 tahun dan tinggal di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jefri tinggal tidak jauh dari Center Pekka Kerubaki. Sehari-hari ia mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di sekitar Center Pekka dengan berjualan bensin dan membuka bengkel tambal ban sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Sabtu, 3 April 2021, Jefri masih berada di Center Pekka walaupun hari itu merupakan hari Sabtu Santo bagi umat Katolik yang sedang merayakan paskah. Namun demi memenuhi kebutuhan hidup, maka Jefri masih menyempatkan untuk bekerja. Karena terlalu lelah, maka setelah pulang ke rumah, Jefri langsung tidur dan tidurnya sangat pulas, sampai pada dini hari  sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT, ayahnya membangunkannya, \"Nak, cepat bangun! Ada air, banjir dari gunung!\".<\/p>\n\n\n\n

Dengan lemas, ia pun bangun dan mengambil uang hasil jualannya yang berjumlah Rp1.000.000,- dan juga handphone-<\/em>nya. Jefri lalu bergegas lari keluar dari rumah. Dalam keadaan panik, ia tak sadar bahwa ia hanya berlari seorang diri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di rumah. Ia berlari dalam kegelapan, karena pada saat terjadinya banjir bandang, listrik tiba-tiba padam.<\/p>\n\n\n\n

Setelah sampai di Desa Tanjung Batu, Jefri sadar bahwa ternyata orang tuanya masih di rumah. Pukul 05.00 WIT, Jefri kembali ke rumah untuk memastikan keadaan orang tuanya. Sesampainya di sana, sayangnya kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Kedua orang tuanya hanyut terseret arus banjir. Ia berlari ke dalam rumah dalam keadaan basah dan hanya memakai celana sambil mencari kedua orang tuanya. Ia hanya dapat menemukan ibunya saat itu yang tertimbun batu dan lumpur. Syukur ia masih bisa diselamatkan. Namun sayang, ayahnya belum bisa ditemukan hingga hari ini. Walaupun dalam keadaan berduka, sedih, dan merintih kesakitan, tapi ia harus kuat karena ia harus menjaga ibunya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Keadaan ibunya masih sangat lemas karena tertelan lumpur dan tangan kanannya patah.<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Matildis Jawa<\/p>\n\n\n\n

Editor: Seniwati Arruan Mewangka<\/p>\n","post_title":"Kisah Korban Banjir Bandang Lembata","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"kisah-korban-banjir-bandang-lembata","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 04:14:41","post_modified_gmt":"2022-06-23 04:14:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2066","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2060,"post_author":"4","post_date":"2022-06-23 03:41:51","post_date_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content":"\n

\"\"
Siti Rohana, Si Perempuan Hebat<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Dalam kehidupan ini, kita mengalami berbagai macam cobaan hidup baik di rumah tangga maupun di masyarakat. Begitu juga dengan salah satu anggota kelompokku yang mengalami badai kehidupan di dalam rumah tangganya. Dialah Siti Rohana, ia tinggal di Desa Ilir Mesjid, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan.<\/p>\n\n\n\n

Siti menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketidakpastian selama dua tahun. Suaminya tidak ingin menceraikannya, namun tidak ada nafkah lahir dan batin yang bisa dipenuhi oleh suaminya. Suaminya juga sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), mabuk-mabukan, serta berutang di mana-mana. Dari sepengetahuan Siti, terakhir suaminya meninggalkan utang di bank dengan nominal yang sangat banyak dan baru dicicil selama satu bulan, kemudian cicilan utang tersebut dilimpahkan kepada Siti. Siti yang tidak tahu apa-apa justru diberi beban baru untuk membayarkan tagihan utang tersebut. Siti sangat ingin bercerai, ia sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyiksa lahir dan batinnya.<\/p>\n\n\n\n

Berbagai cara sudah dilakukan Siti untuk bisa lepas dari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Sebanyak lima kali pertemuan di Pengadian Agama (PA) serta beberapa kali mediasi, ternyata tidak membuat Siti bergeming, hatinya tidak dapat diluluhkan lagi. Ia teguh pada pendiriannya untuk tetap bercerai karena ia merasa rumah tangganya tidak bisa lagi dipertahankan, sehingga Hakim pada akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Surat Perceraian pada 27 November 2019 silam. Setelah bercerai, Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia memiliki dua anak perempuan. Si anak sulung berusia 15 tahun dan saat ini duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs, sekolah setingkat SMP) dan anak bungsunya berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 pesantren.<\/p>\n\n\n\n

Siti melanjutkan kehidupannya pasca bercerai dengan bekerja sebagai baby sitter <\/em>(pengasuh anak) dengan penghasilan Rp1.000.000,- per bulannya. Ternyata gaji itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Belum lagi ia juga harus membayar cicilan bank yang sangat banyak, serta membantu membiayai kebutuhan ayahnya yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Dari pagi sampai sore, Siti bekerja sebagai baby sitter<\/em>, dan dari sore sampai malam, ia bekerja lagi sebagai pengrajin ukiran kayu. Kehidupannya sangatlah ironis, seakan tidak ada waktu untuk istirahat sebentar saja baginya. Sepulang sekolah, kedua anaknya juga ikut membantunya bekerja dengan berjualan, anak sulungnya berjualan es krim, sedangkan anak bungsunya berjualan secara online<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lebih dia menjalani kehidupannya dengan tenang, sampai akhirnya pada suatu sore, datanglah dua orang laki-laki ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa batas waktu pembayaran cicilan di bank telah jatuh tempo dan tidak bisa lagi ditunda pembayarannya. Mendengar hal itu, Siti pun menangis, ia kebingungan untuk memikirkan cara agar ia bisa membayar cicilan utang kepada pihak bank, sedangkan ia sendiri sudah tidak mempunyai simpanan uang atau benda berharga lainnya yang dapat ia jual. Dengan menahan rasa malu, ia mencoba mendatangi keluarganya satu per satu untuk meminta bantuan pinjaman uang karena keluarganya rata-rata pedagang meuble yang cukup berada. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Berbagai alasan mereka lontarkan, mereka tidak mau membantu Siti, sampai-sampai ada salah seorang keluarganya yang menyarankan untuk meminjam uang lagi ke bank dengan jaminan nama adiknya agar utangnya bisa dibayarkan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar hal itu, dia pun menangis karena hatinya begitu sakit. Keluarganya bukannya membantu, malah ingin menjerumuskannya dengan menambah utang baru di bank. Rasa sakit, kesal, dan kecewa sangat ia rasakan pada keluarganya. Sempat terlintas di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tapi ia masih memikirkan kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBagaimana nanti setelah dia pergi, apakah keadaan akan membaik? Siapa yang akan mengasuh kedua anaknya?\u201d<\/em>, tanyanya dalam hati. Ia juga tak tega menorehkan luka baru pada anak-anaknya, bahkan rasa traumanya masih ada hingga saat ini karena KDRT yang dilakukan mantan suaminya dulu. Ia tahu bahwa perceraiannya pasti sudah menjadi trauma tersendiri bagi kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya juga akan membenci dirinya karena telah meninggalkan mereka. Hal itulah yang menjadi pertimbangannya sehingga ia bertekad untuk bertahan dan tidak lari dari kenyataan hidup yang sungguh pahit.<\/p>\n\n\n\n

Setelah secara perlahan mulai bangkit kembali, Siti kemudian memikirkan bagaimana caranya untuk membayar utang di bank secepatnya. Suatu sore, ia berkunjung ke rumah pamannya yang bekerja sebagai buruh, niat kunjungannya hanyalah sebatas ingin curhat dan membagi masalah yang sedang dia hadapi, sekaligus meminta solusi atas permasalahan tersebut kepada pamannya. Istri pamannya sangat prihatin dan tersentuh sekali dengan kehidupan keponakannya. Akhirnya, paman dan istrinya bersedia membantu Siti.<\/p>\n\n\n\n

Pamannya kemudian mengumpulkan uang yang telah ditabungnya selama bertahun-tahun, namun jumlahnya masih belum cukup untuk melunasi utang Siti di bank. Lalu pamannya meminta bantuan kepada kakak perempuannya (bibinya Siti) untuk menambah sejumlah uang agar utang Siti dapat segera lunas. Dan pada 27 september 2021, ia meminta saya, Lea Haristina untuk menemaninya pergi ke bank untuk membayar utang. Dengan berurai air mata, Siti merasakan kelegaan di hatinya karena sudah terbebas dari utang yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun. Sertifikat rumahnya yang digunakan sebagai jaminan pun akhirnya dikembalikan pihak bank satu minggu kemudian.<\/p>\n\n\n\n

Baru tiga bulan Siti bisa bernafas lega dan menjalani kehidupannya dengan tenang, tiba-tiba bibinya yang dulu pernah meminjamkan uang kepadanya datang menemuinya. Bibinya berkata bahwa ia sangat memerlukan uang untuk keperluan acara pengajian pasca seratus hari meninggalnya suaminya. Dia tidak menyalahkan bibinya yang meminta uangnya kembali, namun dengan berat hati dan berlinang air mata, ia mengatakan bahwa ia belum punya uang untuk membayar utang tersebut dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi untuk meminta bantuan.<\/p>\n\n\n\n

Setelah beberapa hari, aku teringat kalau Siti juga merupakan anggota Pekka dan aku menyarankan agar ia meminjam uang di Koperasi Pekka. Mendengar hal itu, Siti merasa senang dan bersyukur sekali karena akhirnya menemukan jalan untuk bisa membayar utang kepada bibinya. Setelah meminjam uang di Pekka, ia segera mendatangi rumah bibinya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk membayar utangnya. Mengetahui hal itu, bibinya merasa sangat senang. Ia juga senang karena satu masalah sudah bisa diselesaikan, tinggal memikirkan cara melunasi utang pada pamannya. Aku merasa senang melihat Siti dapat berjuang dan bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Ia begitu tabah, sabar, dan ikhlas\u00a0 dalam menjalani kehidupan ini. Semoga ke depannya hanya kebahagiaan yang ia dan keluarganya rasakan, tidak ada lagi duka atau kepahitan yang mendera kehidupannya di masa mendatang. Benar kata orang, walaupun kita mempunyai saudara atau keluarga, tapi uang mengalahkan segalanya, uang tidak memandang semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Terkadang, keluarga terasa seperti orang asing, dan orang asing malah seperti keluarga sendiri. Kalau mengingat semua itu, Siti selalu menangis karena teringat dengan perlakuan keluarganya. Di saat senang, mereka begitu baik dengannya, namun ternyata di saat dia kesusahan dan terpuruk, malah tidak ada yang ingin membantu dan memberikan dukungan untuknya. Begitulah pengalaman hidup Siti, semoga di hari-hari berikutnya, ia dan kedua anaknya akan mendapatkan masa depan yang gemilang. Aamiin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kontributor: Lea Haristina<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor: Helda<\/strong><\/p>\n","post_title":"Perjuangan Hidup Seorang Perempuan Hebat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"perjuangan-hidup-seorang-perempuan-hebat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-23 03:41:51","post_modified_gmt":"2022-06-23 03:41:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2060","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":2046,"post_author":"4","post_date":"2022-06-20 09:49:51","post_date_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content":"\n

\"\"
Sosok Yusmaniar Hastuti (Silin)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Nama saya Yusmaniar Hastuti, orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Silin. Saya lahir di Desa Binjai Baru pada 23 April 1970 dan besar di Desa Pahang, Kayu Ara, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pendidikan terakhir saya SMA. Selesai tamat SMA, saya tinggal di tempat saudara yang berada di Belawan dan juga Tanjung Morawa yang terletak tidak jauh dari Kota Medan untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya saya dapat pekerjaan di Kantor CK PTP IX Pagar Marbau Lubuk Pakam.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1994 ketika saya berusia 24 tahun, saya memutuskan menikah dengan suami saya. Suami saya bekerja di sebuah travel di Kota Medan. Pada saat itu, kami mengontrak rumah yang lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami seorang laki laki. Namun sedihnya, setelah kami memiliki seorang putra, kebun tempat saya bekerja mengalami kemerosotan, jadi banyak karyawan dirumahkan, termasuk saya.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya hanya berharap pada penghasilan suami saja. Saya bersyukur karena suami masih bekerja. Saat anak saya berumur 3 tahun, travel tempat suami bekerja juga mengalami kemunduran dan suami pun berhenti bekerja. Dengan sangat terpaksa, kami pulang ke kampung halaman. Inilah awal kami tinggal di kampung lagi.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya dan suami tinggal di kampung, kami tinggal di rumah orang tua saya dan terkadang juga tinggal di rumah orang tua suami. Tidak berapa lama kami berada di kampung, suami pun akhirnya mendapat pekerjaan baru sebagai supir taksi rental. Ketika anak saya berumur 5 tahun, kami pun akhirnya bisa membangun rumah sederhana di dekat rumah mertua saya yang sampai saat ini masih kami tempati. Setelah memiliki rumah sendiri, saya mulai mencoba meniti usaha dagang pakaian yang dapat dibayar secara kredit\/angsuran untuk membantu perekonomian keluarga. Tujuh tahun berlalu, anak pertama saya sudah masuk SD. Di saat yang bersamaan, lahirlah anak kedua saya yang juga seorang laki laki.<\/p>\n\n\n\n

Mulai saat itu, saya mencoba untuk masuk dan aktif di kegiatan desa, serta mengikuti berbagai macam kegiatan seperti perwiritan dan PKK Desa. Saya sangat bersyukur karena suami saya diangkat menjadi ketua LPM di desa. Seiring berjalannya waktu, saya mengalami sedikit permasalahan dalam rumah tangga. Saya sadar jika memang tidak selamanya kehidupan saya akan selalu tenteram dan akur.<\/p>\n\n\n\n

Suami saya yang berprofesi sebagai supir taksi rental terkadang pulang sampai larut malam, ada kalanya juga sampai pagi dini hari. Banyak cobaan yang saya hadapi saat itu, apalagi saya tinggal di lingkungan keluarga suami yang terkadang juga mengalami perselisihan. Pertengkaran pun kerap terjadi, sampai-sampai hampir membuat kami berpisah. Saya berpikir, mungkin saat itu saya belum dewasa dalam bertindak, emosi saya masih labil, tapi akhirnya tetap bertahan juga sampai saat ini. Di umur saya yang ke 35 tahun, lahirlah anak ketiga saya yang ternyata seorang perempuan. Rasa bahagia pun menyelimuti saya pada saat kelahiran putri kami, lengkap rasanya keluarga saya yang sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Di tahun 2015, saya diperkenalkan dengan sebuah organisasi bernama Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) oleh ibu-ibu yang datang dari Kabupaten Asahan. Dengan mencoba untuk memahami tujuan Pekka yang disampaikan oleh Ibu Mahyar saat itu, akhirnya terbentuklah 5 kelompok Pekka di desa saya pada tahun 2015. Saya pun mendapat amanah menjadi ketua di salah satu kelompok tersebut. Di tahun 2016, saya bertemu dengan adik kami yang bernama Aisyah yang pada saat itu mencari calon Pekka Perintis. Namun, dari beberapa orang yang dicalonkan, saya belum diberi kesempatan untuk terpilih menjadi Pekka Perintis. Sempat berhenti sejenak kegiatan kami di Pekka, hingga akhirnya pada tahun 2018, kegiatan Pekka pun diaktifkan kembali.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Berkegiatan di Pekka<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Pada tahun 2018, di saat anak sulung saya sedang sakit, saya terpilih menjadi salah satu peserta yang berangkat ke Bogor menggantikan rekan saya dalam acara pelatihan mentor paralegal Pekka. Dengan berat hati, saya tinggalkan anak saya yang sedang sakit demi keberlanjutan karir saya di Pekka. Saya sangat bersyukur karena saat itu saya diberi kekuatan oleh keluarga, sehingga akhirnya saya tetap berangkat untuk mengikuti pelatihan, karena menurut saya dan keluarga, kesempatan ini belum tentu saya dapatkan lagi nantinya, walaupun dengan sangat susah saya melangkahkan kaki menuju ke sana.<\/p>\n\n\n\n

Kini saya telah membuka kelas paralegal bersama dua mentor lainnya di Desa Guntung setiap hari Kamis. Kemudian kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif melalui perkumpulan kelompok Pekka, seperti mengadakan kegiatan Jumat berbagi dengan memberikan makanan pada anak yatim-piatu, orang tua, atau orang sakit setiap Jumat, melakukan kegiatan perwiritan Pekka, menangani permasalahan perempuan di desa, serta sosialisasi Pekka ke kecamatan hingga ke kabupaten untuk mendapatkan akses keadilan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Pekka di desa kami, karena selama menjadi anggota Pekka, sangat banyak ilmu yang saya dapatkan, baik melalui penyuluhan langsung maupun melalui pelatihan daring yang sering saya ikuti. Dari segi sosial, saya dapat merasakan bagaimana sekarang ibu-ibu Pekka di Desa Guntung mulai dikenal dan lebih dihargai, serta mulai dilibatkan dalam kegiatan di desa. Saya berharap, Pekka Batu Bara ke depannya bisa berkarya dengan lebih baik lagi, dan semoga saya sebagai koordinator wilayah di desa ini dapat mengangkat nama baik Pekka, khususnya di Desa Guntung ini.<\/p>\n\n\n\n

Penulis : Yusmaniar Hastuti<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Editor : Nur Aisyah<\/strong><\/p>\n","post_title":"Pekka Mengubah Hidupku menjadi Lebih Bermakna","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pekka-mengubah-hidupku-menjadi-lebih-bermakna","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-06-20 09:49:51","post_modified_gmt":"2022-06-20 09:49:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"http:\/\/jwp.pekka.or.id\/home\/?p=2046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

Page 1 of 8 1 2 8
Page 1 of 8 1 2 8