Pejuang Sampah Plus Rupiah

Pejuang Sampah Plus Rupiah

Tak kenal lelah, tak kenal capek. Begitulah setiap  pulang dari sawah, ambil karung segera berjalan menyisir sepanjang jalan tolo Tenga ( jalan persawahan ) untuk mengintip, melihat jangan-jangan akan ada yang lebih banyak lagi neh si sampah dari yang saya ambil dan kumpulkan kemarin. Begitulah hari yang terus berulang-ulang dari kami para ibu-ibu anggota Pekka kelompok Katipu Desa Tenga. Dengan semangat dan optimis yang ada dalam diri akan selalu bisa menghasilkan sesuatu dalam setiap hari yang dilewati.

Memang di sepanjang jalan Tolo Tenga, banyak penjual makanan dan minuman, seperti nasi, berbagai macam minuman es/kopi, bahkan ada berdiri Alfamart. Tentu ini menjadi peluang bagi kami para pejuang sampah. Adanya penjual seperti ini pasti akan selalu menghasilkan sampah setiap harinya, alhasil akan berdampak pada kenyamanan para pengguna jalan sepanjang Tolo Tenga. Tapi itu tidak berlaku selama ada para pejuang sampah, karena setiap hari tempat-tempat itu pasti akan kembali bebas dari sampah alias bersih lagi.

Para penjual, pemilik toko, masyarakat pengguna jalanpun merasa nyaman dan ikut senang, bahkan mendukung dengan cara, sampah mereka sudah tidak di buang sembarangan lagi tapi akan dimasukkan di dalam karung-karung yang sudah disebarkan/dititipkan oleh kami, tinggal nanti pada waktunya karung-karung yang berisi sampah itu akan siap sedia dijemput oleh tuannya. Semua jadi senang, aman, kamipun jadi merasa ringan dan terbantu didalam mengumpulkan sampah. Sama rasa, sama untung, begitulah kira-kira kisah keseharian kami dengan para penyedia sampah.

 

Begitupun dengan arah yang ke pegunungan memiliki ceritanya sendiri pula. Pemandangan yang samapun berlaku disini. Setiap hari selalu berjejer karung yang berisi sampah di sepanjang jalan pegunungan. Bahkan bisa bermalam-malam baru diambil. Tapi untungnya di wilayah kami belum ada yang mencuri/mengambil sampah yang ditinggal seperti itu. Buktinya karung sampah kami tetap ada dan utuh keesokan harinya. Mungkin gak nyadar kali ya, kalau itu uang yang berbentuk sampah. Itu berlaku bukan sehari saja, tapi bisa beberapa hari, karena harus menunggu waktu dan mood dari sang anak ataupun ponaan yang menjemputnya. Karena dibanding dengan teman-teman di desa tetangga yang bercerita soal pencurian sampah mereka.

Ada satu yang bernilai plus buat kami di jalan pegunungan ini, disamping sampahnya, ada satu tempat yang bernama SO LIMBU (salah satu nama area persawahan di desa kami ). SO LIMBU menjadi salah satu destinasi sampah favorit buat kami. Yah.. di tempat seluas puluhan hektar ini penuh ditumbuhi tanaman kangkung dan ikan. Sejauh mata memandang, kangkung tumbuh subur tidak pernah mati, baik musim panas apalagi musim hujan, itu menjadi berkah tersendiri. LARA LIMBU biasa kita sebut (kangkung so LIMBU) memiliki ciri khas tersendiri. Berbeda dengan kangkung yang biasa di tanam para petani sekarang. LARA LIMBU memiliki ciri yang kecil dan pendek. Jangan ditanya soal rasa, boleh diadu. Rasanya yang lembut tidak berserat krenyes-krenyes di mulut. Kalau dimakan pasti akan mau lagi dan lagi. Begitu enak dan khasnya citarasa dari LARA LIMBU. Saya sendiripun mengakui, tidak makan kangkung kecuali LARA LIMBU.

Itulah yang menjadi sampah plus-plus buat kami. Dapat sampahnya, dapat pula kangkungnya untuk dibawa pulang. Tentu kangkungnya akan dijual ke pasar, tidak akan lama langsung habis diburu para penikmat LARA LIMBU. Bagaimana akan merasa jemu, kalau suasana berburu sampah menyenangkan seperti ini. Setiap minggunya sampah ditimbang dan dibayar cash dengan kertas yang merah dan biru oleh pengepul. Petani bawang, menjual bawangnya, atau penjual barang-barang lain masih bisa diutangi dan dibayar kredit, tapi sampah tidak ada istilah ngutang apalagi kredit, semua dibayar cash. Mantap kan?. Begitulah semangat teman-teman pejuang sampah semuanya, tetap sehat agar bisa melangkah lebih jauh lagi.

 

Kontributor: Iche Anggriani, Kader Pekka Kabupaten Bima, NTB

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *